Memakan dan Dimakan Mitos

Pasti kita sudah sangat akrab dengan istilah “mitos”. Kalau kita lihat dalam KBBI, mitos didefinisikan sebagai cerita suatu bangsa tentang asal-usul semesta alam, manusia dan bangsa itu sendiri. Istilah mitos (mythos) berasal dari bahasa Latin yang artinya adalah “perkataan” atau “cerita”. Orang pertama yang memperkenalkan istilah mitos adalah Plato yang memakai “muthologia”, artinya menceritakan cerita. Cerita di sini biasanya mengenai peristiwa gaib dan kehidupan dewa-dewa.

Di Indonesia banyak sekali mitos dalam kehidupan sehari-hari yang berupa larangan atau anjuran. Entah penggunaan istilah mitos dalam konteks tersebut benar atau salah karena akhirnya larangan atau anjuran tersebut tidak disertai cerita yang utuh (kalau kita merujuk kepada arti mitos sebagai cerita). Tapi yang pasti, yang kita sebut mitos itu, seringkali tidak masuk akal dan tidak dapat diterima di era modern seperti sekarang ini. Meskipun harus diakui masih banyak masyarakat yang memakan dan dimakan mitos begitu saja, mentah-mentah. Mereka mempercayai mitos sebagai sesuatu yang sakral sehingga menjadi pegangan hidup dalam melakukan sesuatu.

Seiring berjalannya waktu, beberapa mitos mulai menghilang, orang-orang hanya menanggapi mitos sebagai angin lalu bahkan gurauan. Banyak juga yang berusaha menelusuri lebih jauh makna mitos-mitos tersebut, memaknainya dengan logika dan akal sehat, sehingga mematuhi mitos tersebut karena dapat memahami maksud dan tujuannya. Dan memang, beberapa mitos dapat kita lihat kelogisannya. Misalkan, mitos yang mengatakan bahwa jangan duduk di pintu karena akan susah jodoh. Secara harfiah, tentu tidak ada korelasi antara duduk di pintu dengan jodoh. Beberapa orang menyimpulkan maksud dari mitos tersebut adalah supaya kita tidak duduk di pintu karena akan menyulitkan orang yang lalu-lalang melalui pintu tersebut. Logis.

Saya termasuk orang yang santai menanggapi mitos. Kalau masuk akal, ya patuhi. Kalau aneh bin ajaib, cukup senyum atau geleng-geleng kepala saja. Salah satu mitos yang paling sering saya dengar tahun-tahun belakangan ini adalah “mencuri bunga melati pengantin”. Yup! Kalian juga pasti pernah mengalaminya dimana orang-orang dengan antusias menyarankan kita agar mencuri bungan melati pengantin. Supaya apa? Supaya kita juga segera menjadi pengantin.

Saya tidak pernah menemukan kelogisan dari mitos yang satu ini. Entah apa korelasinya antara mencuri bunga dengan menikah. Apakah semua orang yang sudah menikah saat ini karena mereka telah mencuri bunga melati sebelumnya? Apakah saya belum menikah sampai saat ini karena saya tidak pernah mencuri bunga melati? Ah yang benar saja. Nonsense. Saya tidak pernah melakukannya sekali pun dalam sekian ratus pernikahan yang saya datangi. Bukan karena “bagaimana jika mitos itu salah?”, tapi justru karena “bagaimana jika mitos itu benar?”. Nah lho!

Memang hidup di antara ratusan mitos itu lumayan geli tapi seru. Kalau kita terlalu serius menanggapinya, mungkin akan berubah jadi horor dan menyebabkan kita ketakutan setengah mati untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Satu yang pasti; lakukan apapun yang kamu inginkan, asal yakin.

Here I am, untuk pertama kalinya, saya yakin. Dan saya melakukannya: MENCURI MELATI! :)))

Ini dia penampakan melati yang berhasil saya curi dari sang pengantin. Hanya 3 helai karena melakukannya dengan gemetar. :D
Ini dia penampakan melati yang berhasil saya curi dari sang pengantin. Hanya 3 helai karena melakukannya dengan gemetar. 😀

 

*Silakan bilang “aamiin” (If you know what I mean). :p

Advertisements

3 thoughts on “Memakan dan Dimakan Mitos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s