Tanggung Jawab Generasi

10689562_760243620697790_3824402234693029860_n

Sudah lihat iklan ini? Saya sih belum, tapi iklan ini cukup ramai dibicarakan di media sosial beberapa hari ini sebagai iklan yang meresahkan karena memuat konten berbau mesum. Reklame berukuran besar yang menampilkan sepasang anak muda dengan pose nyaris berciuman dan tagline “Mula-mula Malu Malu, Lama-lama Mau” ini dinilai mengarahkan persepsi masyarakat pada adegan mesum lebih lanjut. Hal ini dianggap tidak layak untuk dipampang di ruang publik yang tentu akan dikonsumsi oleh semua umur, termasuk anak-anak dan remaja. (Diskusi mengenai konten iklan ini silakan lihat dalam postingan kawan saya Rima atau bisa menelusuri om gugel.)

Pihak Sampoerna kabarnya sudah menghentikan penayangan iklan tersebut (baca di sini), saya sendiri belum tahu apakah iklan ini sudah semua dicabut atau ada yang masih mejeng di ruang publik. Sudah tenang? Mungkin. Tapi yang menjadi perhatian saya bukan sekadar akhirnya iklan ini menghilang dari ruang publik, melainkan bagaimana iklan tersebut awalnya bisa muncul?

Keberadaan sebuah reklame di ruang publik tentu melalui beberapa tahap, termasuk izin penayangan. Saya penasaran, apakah tidak ada seleksi (memeriksa konten dan lain sebagainya) sebelum mengeluarkan izin tayang atau konten semacam ini dinilai bukan hal berbahaya untuk ditampilkan di ruang publik? Kalau jawabannya yang pertama, berarti ada yang salah dengan sistem pemberian izin (atau ini udah jadi rahasia umum yang menyebalkan itu?) atau cara kerja tim pemberi izin. Kalau jawabannya yang kedua, ini yang perlu dikaji.

Saya melihat saat ini manusia pada umumnya (atau hanya yang saya lihat) cenderung berpikir pendek, praktis dan individualis. Berbagai persoalan yang centang perenang dalam kehidupan manusia saat ini membuat kita pusing tujuh keliling karena tidak mampu menyelesaikan semuanya. Semua bagai benang kusut yang entah di mana ujungnya, sehingga untuk menangani kepusingan itu, kita memilih untuk mengambil langkah paling mudah: menjadikan diri sendiri sebagai tolok ukur. Maka muncullah kalimat-kalimat “yaudahlah biarin aja” “yaudahlah yang penting kita aman”.

Apa hubungannya dengan iklan rokok ini? Beberapa orang, termasuk pihak yang memberi izin penyangan iklan ini, mungkin menilai tidak ada yang salah dengan iklan ini dalam pandangannya. Hal ini bisa disebabkan oleh tingkat pemahaman, pendidikan, latar belakang, maupun lingkungan, sehingga dia mampu mengendalikan diri dan pikirannya untuk melihat gambar yang ditampilkan secara positif. Tetapi tentu itu tidak bisa dijadikan ukuran untuk begitu saja menampilkan sebuah gambar di ruang publik. Ada variabel lain yang harus jadi ukuran sebelum keputusan itu dibuat, salah satunya kemungkinan gambar tersebut dikonsumsi oleh anak-anak di bawah umur. Mengapa hal itu bisa lolos dari pertimbangan?

Dalam beberapa kasus lain, saya melihat bahwa kita tidak lagi memiliki kepedulian sosial (atau berkurang kalau tidak mau dikatakan hilang sama sekali) sebagai suatu komunitas besar, katakanlah bangsa. Sehingga dorongan untuk memastikan orang/bagian lain dalam komunitas ini baik-baik saja, sudah tidak ada. Kita lihat dalam kasus penayangan pernikahan atau persalinan para artis beberapa waktu lalu di tv nasional. Banyak orang yang berkomentar “kalau gak suka ya jangan ditonton” sebagai sebuah solusi (menurutnya) yang paling adil untuk menyikapi tayangan tersebut dan tayangan-tayangan tidak mendidik lainnya. Menurut saya, ini menunjukkan ketidakpedulian bahwa tayangan tersebut menyalahgunakan fungsi frekuensi publik dan dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat yang tidak memiliki pilihan “kalau gak suka ya jangan ditonton”.

Kasus iklan rokok dan tayangan televisi ini, menurut saya, dalam konteks tanggapan yang sudah saya katakan di atas, menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang akhirnya melihat ini sebagai suatu persoalan sepele (parsial) yang cukup disikapi dengan praktis, bukan sebagai hal yang secara persisten berpotensi menimbulkan kerusakan yang lebih besar dan menyeluruh. Upaya yang dilakukan oleh kelompok lain untuk “membenahi” justru dianggap sebagai aktivitas yang tidak perlu bahkan cenderung dianggap resek dan ribet.

Saya ingat seorang kawan bernama Denny beberapa tahun lalu mengatakan kepada saya tentang mengapa kita harus mengajarkan hal baik pada adik-adik asuh kami di Rumah Pintar Lentera. Menurutnya, kita punya tanggung jawab sebagai sekelompok orang dalam satu generasi untuk memastikan generasi berikutnya menjadi lebih baik dari kita dalam berbagai hal, juga mencegah generasi berikutnya rusak karena jika itu terjadi maka akan rusak juga seluruh kehidupan sebagai sebuah sistem. Memang sulit untuk tetap kuat dan konsisten dalam mengemban apa yang disebut kawan saya sebagai “tanggung jawab generasi” tersebut, juga perlu ketangguhan yang luar biasa agar tetap bertahan untuk tidak menjadi makhluk egois yang hanya bisa berkomentar “yaudahlah biarin aja”.

Jika semua orang berpikir demikian, mungkin akhirnya kita bisa mulai menemukan ujung benang sehingga benang kusut ini bisa kita urai satu per satu. Semoga.

Tentang #1minggu1cerita
Proyek menulis di blog yang bertujuan untuk membuat blogger rajin nulis dan berbagi mengenai berbagai macam informasi. Tulisan di-posting maksimal hari Jum’at tiap minggunya dan dibagikan lewat grup WhatsApp anggota serta media sosial masing-masing anggota dengan menyebut akun para anggota supaya lebih mudah untuk dibagikan ulang. Tertarik bergabung? Silakan mendaftar di sini.
Cerita lengkap tentang #1Minggu1Cerita bisa dibaca di sini. 🙂
Advertisements

2 thoughts on “Tanggung Jawab Generasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s