Belum Kawin atau Tidak Kawin

Dua minggu lalu harus mengisi formulir untuk mengurus suatu dokumen. Lalu ada pertanyaan tentang status sipil yang pilihan jawabannya adalah “kawin”, “tidak kawin”, “cerai mati”, dan “cerai hidup”. Tentu saja saya pilih yang “tidak kawin” karena tiga pilihan lainnya tidak tepat untuk mewakili status saya sekarang ini. Meskipun, menurut saya, ada yang mengganggu dari pilihan “tidak kawin”. Apakah itu cukup tepat untuk digunakan?

image

Sebelum saya lanjutkan, saya akan ingatkan bahwa tulisan ini hanya tentang persoalan linguistik saja. Jadi jangan terlalu berambisi untuk menyimpulkan apalagi mengaitkan dengan pilihan hidup orang lain. 😀

Saya beberapa kali terlibat percakapan dengan beberapa kawan perihal kawin dan tidak kawin. Intinya, saat ini status saya adalah “belum kawin”, bukan “tidak kawin”. Kata orang tua, kita tidak boleh berkata tidak kawin. Pamali, katanya. Jadi jawablah dengan “belum kawin”. Di KTP pun tertulis “belum kawin”, bukan “tidak kawin”. (Abaikan dulu perbedaan antara kawin dan menikah, seandainya memang dianggap berbeda)

Mari kita telisik persoalan linguistik ini. Menurut KBBI, kata “tidak” merupakan partikel yang digunakan untuk menyatakan pengingkaran, penolakan, penyangkalan, dan sebagainya. “Tidak” berarti menunjukkan kondisi yang cenderung statis dan baku. Sedangkan kata “belum”, masih dalam KBBI, didefinisikan sebagai masih dalam keadaan tidak, yang berarti menunjukkan kondisi yang dapat berubah, menuju menjadi -dalam hal ini- kawin. Tentu ada perbedaan fungsi “tidak” dan “belum”, sehingga harus menempatkannya dengan benar.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa frasa “tidak kawin” berbeda maknanya dengan “belum kawin”. Tapi kedua frasa tersebut jadi sangat subjektif penggunaannya. Misalkan untuk beberapa orang, frasa “tidak kawin” tidak tepat digunakan karena ada kemungkinan (minimal keinginan) untuk menuju menjadi kawin. Begitu juga frasa “belum kawin”. Ini bisa jadi tidak tepat juga untuk sebagian orang yang memang berpikir dan berprinsip untuk tidak menikah. Meskipun dalam budaya kita prinsip semacam itu adalah tabu. Orang yang menyatakan diri untuk tidak menikah, tidak dapat diterima oleh hampir seluruh masyarakat kita. Apapun alasannya.

Mengapa pemerintah menggunakan frasa “belum kawin” pada KTP dan “tidak kawin” pada dokumen yang lain? Saya penasaran saja, apakah ada pertimbangan khusus dalam penggunaan kedua frasa tersebut atau sekadar menuliskan tanpa tendensi apa-apa. Saya juga penasaran apakah ahli bahasa atau sarjana sastra Indonesia dilibatkan dalam pemerintahan sesuai dengan kompetensinya? Karena menurut saya, penting untuk menempatkan ahli bahasa Indonesia dalam berbagai bidang dalam pemerintahan agar penggunaan bahasa Indonesia tepat sesuai kaidahnya.

Sekali lagi ini persoalan linguistik. Pada akhirnya keputusan seseorang untuk “kawin”, “belum kawin”, atau “tidak kawin” biarlah menjadi haknya sebagai pribadi yang bebas dan merdeka. Tidak perlu memaksa seseorang untuk kawin, apalagi dengan orang yang tidak dicintainya. Karena seperti kata Dewa 19: CUKUP SITI NURBAYA. 😀

Advertisements

5 thoughts on “Belum Kawin atau Tidak Kawin

  1. Saya juga mempunyai pikiran yang persis dengan Anda. Mengapa pemerintah memilih frasa “Belum Kawin” atau “Tidak Kawin” untuk para individual dalam status lajang?

    Menurut saya, “Lajang” adalah istilah yang lebih akurat (dan lebih singkat) daripada dua frasa tersebut – tapi seperti yang Anda sudah bicarakan – ini hanya persoalan linguistik tapi kalau dipikir lebih dalam, beberapa implikasi akan muncul 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s