Merayakan Persahabatan: Tumbuh Bersama Waktu

Salah satu nikmat Tuhan yang patut disyukuri adalah persahabatan. Bayangkan saja kalau kita tidak memiliki sahabat yang ada dalam suka maupun duka, seseorang yang  memahami diri kita di saat tidak ada orang lain yang mampu melakukannya. Bayangkan jika tidak ada sahabat yang setia mendengarkan ocehanmu, mendukung usahamu, dan mengingatkan jika kamu salah. Lalu apa yang bisa terjadi selama belasan tahun persahabatan? Banyak. 😀

Dia adalah Dewi Sugestiwi alias Dewoq, salah satu sahabat saya. Kami sudah 18 tahun berteman sejak pertama kali kenal di bangku SMP. Saking lamanya persahabatan kami, kami mengalami berbagai macam tipe berkomunikasi; mulai dari surat-menyurat, telepon rumah, handphone pinjeman, miskol tiga detikan (kalau kalian tau, berarti kalian seumuran kami :D), sms-an, sampai era berbagai fitur chatting gratisan seperti sekarang ini. Dulu, sebelum ada facebook dan sebagainya, kami sering saling mengirim sms tidak penting, kalau jaman sekarang sih semacam sekadar update status. :p

Kami juga mengalami beberapa fase tren nongkrong (yang kami ciptakan sendiri tentunya). Nongkrong di sini dalam arti menghabiskan waktu berlama-lama di satu tempat untuk mengobrol berbagai macam hal. Waktu sekolah, tempat nongkrong kami adalah KBU 1 yang tak lain adalah kamar tidur dia. Dinamakan KBU 1 karena kamarnya bersebelahan dengan kamar adiknya dan kita bisa saling mendengar perbincangan dari kamar lain, seperti KBU wartel (kalian tahu wartel kaaaan? :D). Waktu sama-sama tinggal di Bandung, kami suka sekali nongkrong di teras mesjid. Kami sudah pernah nongkrong di banyak mesjid. Di Bogor, kami suka sekali duduk di lapangan tenis di rumah saya yang lama, sambil menikmati kopi dan langit malam. Kami juga suka duduk di teras sebuah pertokoan sampai tokonya tutup. Sungguh gembel sekali dua cewek ini. Hahahaha.

Selain media komunikasi dan tempat nongkrong, tentu diri kami sendiri pun berubah.Dulu kami sama-sama tomboy dan cuek (cenderung gembel sih :p), punya sudut pandang yang sama, selera berpakaian yang sama (syukurlah selera laki-laki kita tidak sama :D). Tampaknya, program studi dan bidang pekerjaan yang berbeda akhirnya membentuk kami jadi dua pribadi yang berbeda pula. Karena usia pertemanan kami yang cukup lama dan intens, kami sangat menyadari perubahan itu, tak jarang pula kami merasa asing satu sama lain.

Ah, tapi tetap saja Dewoq masih orang yang sama seperti yang saya kenal sejak 18 tahun lalu; orang yang melakukan apapun yang ingin dia lakukan, tidak peduli orang lain berkata apa; orang yang tidak bisa diganggu gugat waktu tidur siangnya; orang yang sulit jatuh cinta dan akan cinta mati-matian saat menemukannya (beruntunglah hei laki-laki, jangan disia-siakan).

Dia juga masih orang yang sama yang setia mendengarkan keluh kesah saya; orang yang sama yang rajin mengerjakan PR2 Bahasa Indonesia saya sewaktu SMA; orang yang memahami saya tanpa harus bersusah payah menjelaskan; perempuan yang tangguh menghadapi berbagai macam hal.

guli dwoq-2

Terkadang saya takjub betapa waktu bisa mengubah manusia. Tetapi dalam persahabatan, perubahan itu seharusnya menjadi kekuatan. Bersahabat tidak berarti selalu sepakat. Sahabat adalah orang yang akan lantang mendukung jika benar, dan tidak segan menegur jika salah.

Bersyukurlah jika kau memilikinya. 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Merayakan Persahabatan: Tumbuh Bersama Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s