Percakapan Tentang Sebuah Pilihan

Kita pernah bicara suatu hari. Tentang sebuah pilihan. Tentang Cinta dan Kehidupan.

Pemuja Cinta: Aku memilih cinta. Seperti yang kau sudah pasti tahu. Ya, aku masih gadismu. Gadis yang menangis ketika cinta tak lagi dapat kumiliki. Lalu kau akan menenangkan aku dengan pepatah kunomu “cinta tak harus memiliki”. Kau tahu aku tak suka kalimat itu. Tapi kau juga tahu aku selalu diam saat mendengar kau mengatakannya.

Pengagung Kehidupan: Cinta tidak hilang. Cinta juga tidak bodoh untuk menemukan kembali jalan pulang.

Pemuja Cinta: Lalu mengapa dia tidak di sini?

Pengagung Kehidupan hanya tersenyum tenang.

Pemuja Cinta: Suatu hari kau bilang cinta sedang melaksanakan tugas. Seperti dokter, seperti ibu guru, seperti Superman, seperti ayah, seperti semua orang yang bekerja. Apa tugasnya?

Pengagung Kehidupan: Menjaga kehidupan. Kehidupan yang harus dijaga api hidupnya. Biar tidak padam. Dan dia tidak mungkin bertugas di tempat berbeda dalam waktu yang sama. Cinta tidak bisa membelah diri.

Pemuja Cinta: Tidak boleh.

Pemuja Cinta: Apakah cinta akan pulang?

Pengagung Kehidupan: Ya. Saat dia lelah, tentu akan rindu hangatnya rumah. Dia akan pulang ke rumah yang pintunya selalu terbuka. Rumah yang di dalamnya ada seseorang yang sedang menantinya. Seperti rumahmu, seperti dirimu.

Pemuja Cinta: Bagaimana jika pintuku tertutup? Bagaimana jika aku tidur?

Pengagung Kehidupan: Tak apa. Kau juga butuh istirahat.

Pemuja Cinta: Lalu apakah dia akan pergi jika pintuku tertutup?

Pengagung Kehidupan: Dia tidak akan kemana-mana. Dia akan menunggumu di luar, sampai kau terbangun dan membuka pintu di pagi hari.

Pemuja Cinta: Apa pilihanmu?

Pengagung Kehidupan: Kehidupan.

Pemuja Cinta: Kenapa?

Pengagung Kehidupan: Karena aku pengagung kehidupan.

Pemuja Cinta: Apa itu sebuah jawaban?

Pengagung Kehidupan: Kau akan mengerti.

Pemuja Cinta: Lalu bagaimana kau akan hidup tanpa cinta?

Pengagung Kehidupan: Aku pengagung kehidupan.

Pemuja Cinta: Kau tidak butuh cinta?

Pengagung Kehidupan: Tentu saja aku butuh. Aku merindukannya saat lelah. Terkadang aku ingin berada di sana, di tempat cintaku telah tumbuh dan semakin besar. Seringkali aku berkhayal dia tidak hanya diam di sana, tidak hanya menungguku pulang. Aku ingin dia berkunjung, sekadar menyapa dan memberi senyuman.

Pemuja Cinta: Mungkin dia tidak tahu kau sedang berada di mana.

Pengagung Kehidupan: Dia tahu. Dia selalu tahu. Tapi dia takut.

Pemuja Cinta: Takut bertemu denganmu?

Pengagung Kehidupan: Takut kalau diam-diam aku telah mencangkoknya di tempat lain.

Pemuja Cinta: Kau melakukannya?

Pengagung Kehidupan: Apakah salah?

Pemuja Cinta: Kau bertanya padaku? Kau gila.

Pengagung Kehidupan: Aku melakukannya untuk sebuah alasan. Dan aku ingin dia mengerti.

Pemuja Cinta: Apakah dia mengerti?

Pengagung Kehidupan: Dia bahkan tidak mau tahu.

Pemuja Cinta: Mungkin dia takut kau tidak menginginkannya datang. Kenapa kau tidak pulang saja?

Pengagung Kehidupan: Aku sedang menjaga sebuah kehidupan.

Pemuja Cinta: Lalu kau biarkan cintamu mati?

Pengagung Kehidupan: Dia tidak akan mati. Dia akan selalu tumbuh membesar dan semakin kuat.

Pemuja Cinta: Yakin sekali.

Pengagung Kehidupan: Seyakin kau dalam penantianmu.

Pemuja Cinta: Rumit sekali.

Pengagung Kehidupan: Kau akan mengerti.


Kita pernah bicara suatu hari. Entah nyata atau aku hanya bermimpi.

-Februari 2010-
Advertisements

2 thoughts on “Percakapan Tentang Sebuah Pilihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s