Kapan Kawin?

Pekan ini ada judul film di bioskop yang cukup menggelitik untuk ditonton. Maka saya menontonnya kemarin, film yang diperankan oleh aktris kesukaan saya sejak zaman film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) tahun 2002, Adinia Wirasti. Bersanding dengan Reza Rahadian, perempuan eksotis ini bermain dalam film bertajuk “Kapan Kawin?”. Bagaimana bisa saya tidak tergelitik dengan judul itu? 😀

Puncak Tertinggi Kehidupan Manusia

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, menikah tampaknya menjadi sebuah hal yang wajib dilakukan. Tak jarang pula orang-orang menempatkan pernikahan sebagai puncak pencapaian manusia dalam gunung kehidupan yang terjal dan curam. Sehingga, orang yang berhasil menggapainya tentu dianggap sebagai contoh orang yang berhasil menjalani kehidupan dengan baik dan benar, terlepas apakah dia berdarah-darah untuk bisa tiba di puncak atau kenyataan bahwa di atas sana tidak seindah yang dibayangkan dan membuat frustasi sampai ingin terjun bebas ke bawah. Semua itu tidak jadi soal. Fokus utamanya adalah kamu harus berhasil sampai ke atas sama seperti orang kebanyakan.

Pemikiran itu akhirnya menjadikan pernikahan seperti sebuah turnamen lari. Semua orang, secara sadar maupun terpaksa, berlomba-lomba untuk lebih dulu tiba di puncak. Meskipun beresiko tergelincir dan jatuh. Meskipun tidak dapat menikmati keindahan pemandangan sepanjang jalan menuju puncak. Lagi-lagi bagi sebagian orang itu tak jadi soal. Semua resiko itu masih jauh lebih baik daripada terlambat sampai di atas atau bahkan tidak berencana menuju ke puncak, apapun alasannya.

Kemudian, sim salabim, hal itu menjadi kesepakatan tak tertulis dalam kehidupan bermasyarakat di negeri ini. Jadilah kebanyakan orang akan mendorong, memotivasi, meyakinkan siapapun yang tampak enggan untuk berusaha tiba di puncak. Semua aktivitas dalam rangka menjadikan semua orang berlari menuju gerbang pernikahan itu diawali dengan sebuah pertanyaan sederhana: kapan kawin?

Fenomena pertanyaan "kapan kawin?" dijadikan desain kaos.
Fenomena pertanyaan “kapan kawin?” dijadikan desain kaos.

“Kapan Kawin?” dan Dampaknya

Pertanyaan sederhana itu menjadi tidak sederhana bagi sebagian orang, terutama yang sudah menginjak “usia ideal” untuk menikah. Pertanyaan tersebut awalnya terasa lucu, namun seiring waktu berubah menjadi tuntutan, bahkan teror yang menghantui siang dan malam. Sayangnya, orang-orang yang melontarkan pertanyaan tersebut kepada orang lain yang masih lajang, tidak pernah memikirkan dampaknya bagi orang tersebut.

Dalam film “Kapan Kawin?” sangat jelas diperlihatkan bagaimana Dinda yang diperankan oleh Adinia Wirasti berusaha menghindari orang tuanya. Bertahun-tahun tidak pulang ke rumahnya di Yogyakarta demi menghindari tuntutan Ayah Ibunya untuk segera menikah. Film ini menggambarkan kondisi yang banyak terjadi di masyarakat kita, dimana seorang perempuan berusia 30-an yang masih lajang dianggap “tidak normal”. Normal dalam pandangan film tersebut (yang diutarakan oleh orangtua Dinda) adalah menikah di usia 24 tahun dengan seseorang yang tampan dan mapan.

Meskipun Dinda merasa baik-baik saja atas kehidupannya, akhirnya dia panik juga ketika orangtuanya semakin menuntut untuk mengenalkan pasangannya sesegera mungkin. Timbullah ide untuk menyewa kekasih yaitu Satrio yang diperankan oleh Reza Rahadian. Akhirnya Dinda pasrah dan menyerah pada kondisi “oke, saya harus memperkenalkan seseorang agar dianggap normal”, padahal dalam kondisi lajang pun dia merasa hidupnya cukup normal. Keputusan yang diambil Dinda, dalam pandangan saya, adalah sebuah bentuk ketidakberdayaan.

Memangnya siapa yang tidak akan gamang dalam menghadapi konstruksi sosial yang begitu kuat karena terbangun selama berabad-abad? Wajar jika akhirnya Dinda, dan jutaan perempuan di luar sana, merasa tidak percaya diri dan tidak berharga di tengah masyarakat “normal”. Sehingga, tak heran jika “mengasingkan diri” menjadi jalan yang cukup banyak dipilih dibanding harus “menjerumuskan” diri dalam percakapan basa-basi yang berujung pada petuah yang cenderung menghakimi. Tetapi seolah belum cukup, pilihan “mengasingkan diri” yang seharusnya adalah “jalan aman” malah menjadikan orang yang bersangkutan dianggap sebagai orang yang sombong, angkuh, tidak mau bergaul, dan lain sebagainya.

Ada sebuah kalimat yang diucapkan oleh Ibunya Dinda yang membuat saya terusik. Ketika Dinda menyampaikan akan mengenalkan kekasih, ibunya berkata “akhirnya kamu bisa membahagiakan orang tua” dengan ekspresi penuh rasa syukur dan haru. Kalimat tersebut bermakna seolah-olah selama 33 tahun hidupnya, Dinda tidak pernah sedikit pun memberikan kebahagiaan bagi orang tuanya. Mungkin kalimat tersebut hanyalah ungkapan hiperbola, dilebih-lebihkan, sekadar untuk menunjukkan kebahagiaannya. Tapi cobalah berada di posisi Dinda. Kalimat tersebut jauh lebih menyakitkan dari sayatan pisau. Sayangnya, masih banyak orang tua yang menggunakan kalimat tersebut untuk menunjukkan kebahagiaan mereka tanpa sadar telah menyakiti perasaan anaknya.

Lucu Tapi Sedih

Meskipun beberapa orang menganggap judul film ini terkesan “murahan”, menurut saya film berdurasi 114 menit karya Legacy Pictures ini layak ditonton. Kualitas akting dari kedua pemeran utamanya tak perlu diragukan lagi. Sebagai film bergenre Comedy Romantic, film ini sangat menghibur. Akting Reza Rahadian yang memerankan sosok yang “nyeleneh” membuat adegan perdebatan dan pertengkaran menjadi lucu. Meskipun di beberapa adegan saya dibuat tertegun dan menangis oleh kalimat yang dilontarkan Satrio, salah satunya dialog dalam adegan pertengkaran Dinda dan Satrio.

“Seneng yang kamu kasih ke mereka itu kayak cek kosong. Kalau kamu mau ngasih duit, punya duit dulu. Kalau kamu mau bikin seneng orang, kamu dulu yang seneng.” ~ Satrio

Jleb!

Advertisements

10 thoughts on “Kapan Kawin?

  1. Hai mba Indri guli, apa kabar?

    tadi sempet gak sengaja liat pas buka fb, kebetulan emang pengen banget nonton filmnya, jadi ikutan ngeklik review filmnya. sekaligus tersindir dengan pertanyaan ‘kapan kawin’ tersebut. hehe.

    layak untuk di tonton kan? hehe

    1. Hai Fienna, apa kabaaar? Lama banget gak ketemu ya kitaaa, hehe.

      Menurutku film ini layak ditonton, terutama oleh orangtua dan orang-orang yang sudah menikah biar bisa lebih bijak lagi dalam menunjukkan “kepeduliannya” terhadap kehidupan orang lain.

      Filmnya bagus koq, Adinia Wirasti keren. 🙂

  2. Jleb!!
    sekarang jadi sering ditanya kapan undangannya menyusul dan memikirkan ribetnya menentukan “hari baik” versi orang tua yang masih menjunjung tinggi adat dan tradisi #curcol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s