Melawat ke Rumput Tetangga

Rumput tetangga selalu lebih hijau.

Ungkapan di atas saya rasa pernah atau sering dialami oleh siapapun. Seringkali kita melihat sesuatu milik orang lain tampak lebih baik daripada milik kita sendiri. Bisa karena memang begitu faktanya, bisa juga karena kita kurang mensyukuri apa yang kita miliki sehingga selalu merasa tidak cukup. Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa kawan berkesempatan melawat ke rumput tetangga, yaitu Singapura. Kemudian saya merasa di sana lebih hijau. Jauh lebih hijau.

Tentu saja hijau di sini bukan dalam konteks warna yang merujuk pada pepohonan. Kalau soal itu, Indonesia masih jauh lebih kaya dibandingkan Singapura. Tetapi soal kebersihan dan kerapian kota, kita jelas jauh tertinggal. Saya baru pertama kali jalan-jalan ke luar negeri. Jadi sepertinya selama beberapa waktu ke depan, saya akan berada dalam fase membandingkan kondisi di Indonesia (Bogor dan beberapa kota yang pernah saya kunjungi) dengan Singapura. Apakah saya kurang bersyukur tinggal di Indonesia? Coba kita telisik hal-hal yang membuat Singapura tampak lebih “hijau”.

Bersih dan Rapi

SG 2
Stasiun MRT yang sangat bersih dan nyaman.

Selama empat hari di Singapura dan berkunjung ke beberapa tempat, saya sangat mengagumi kebersihan negara ini. Di sepanjang jalan yang kami lewati, tidak ada sampah-sampah plastik berserakan. Tempat sampah tersedia di beberapa titik dan berfungsi sebagaimana mestinya. Mungkin karena memang di sana tidak ada penjual jajanan gerobak yang nangkring di mana pun seperti di sini. Di sana, rasanya saya jarang sekali melihat orang yang lalu lalang sambil makan atau minum sesuatu.

Penjual makanan atau minuman berkumpul di beberapa titik, berupa kafe atau tempat makan. Itu pun tidak banyak jumlahnya. Mungkin itu yang menjadikan Singapura terlihat rapi. Pemerintah Singapura mungkin memiliki regulasi yang mengatur jumlah dan lokasi pedagang, sehingga pedagang tidak bisa berjualan di sembarang tempat.

Kami memang tidak mengelilingi seluruh wilayah Singapura, tetapi daerah yang kami kunjungi memiliki tata kota yang sangat rapi. Paling saya suka, fasilitas untuk pedestrian sangat memadai dan nyaman. Selama di sana, kami hanya menggunakan transportasi umum MRT dan selebihnya jalan kaki. Meskipun harus berjalan sangat jauh, kami sangat menikmatinya. Satu lagi, di sana tidak ada spanduk, bendera partai, apalagi iklan sedot wc. Bersih dari sampah visual.

Oiya, fasilitas toilet di tempat-tempat umum di sana juga bersih. Toilet bandara Singapura sangat bersih dan luas. Saya selalu memberi nilai excellent setiap kali menggunakan toilet di sana.

SG 5
Layar penilaian di toilet Bandara Changi

Tertib

Fasilitas sebaik apapun tentu akan sia-sia jika perilaku manusianya tidak baik. Di Singapura, semua terlihat sangat tertib. Saya paling suka saat akan menyeberang jalan. Semua orang di sana menyeberang di tempat yang seharusnya dan baru menyeberang jika lampu hijau menyala. Selama di sana, saya hanya satu kali mendengar pengendara membunyikan klakson. Kondisi yang jauh berbeda dengan di sini, Bogor khususnya.

SG 1
Meskipun sepi, tetap menyebrang saat lampu hijau menyala.

Di sini, saya seringkali tidak bisa menyeberang di zebracross karena ada angkot yang sedang menunggu penumpang persis di sana. Di sini, kebanyakan pengendara tidak melambatkan laju kendaraan meskipun melihat pejalan kaki akan menyeberang di zebracross. Tapi perilaku pejalan kaki di sini juga memang seringkali membuat kesal. Banyak pejalan kaki yang menyeberang jalan di sembarang tempat. Jembatan penyebrangan di beberapa lokasi hanya menjadi aksesoris yang kehilangan fungsi awalnya.

Di tempat-tempat umum seperti bandara, Mall, dan stasiun MRT, pengunjung harus berjalan di sebelah kiri ketika menggunakan eskalator. Dan semua orang melakukannya. Jalur sebelah kanan hanya untuk orang yang sedang terburu-buru sehingga bisa mendahului. Tidak ada yang menghalangi jalur sebelah kanan.

Berjalan di sebelah kiri.
Berjalan di sebelah kiri.

Kembali lagi ke pertanyaan di awal, “apakah saya kurang bersyukur tinggal di Indonesia?”. Menurut saya, melihat hal positif dari sesuatu di luar milik kita sangat penting untuk dilakukan. Bersyukur bukan berarti menutup diri untuk melakukan perbaikan, kan? Mengagumi hal positif negara lain tidak lantas membuat kita menjadi orang yang tidak mencintai negeri sendiri. Tetapi justru itu menjadikan kita lebih peka untuk membenahi negara kita, rumah kita.

Saya sepakat bahwa bangsa kita adalah bangsa yang kaya, mulai dari sumber daya alam hingga budaya. Saya sangat mencintai Indonesia dengan segala isinya. Tetapi nasionalisme juga sebaiknya tidak menjadikan kita buta. Kita harus memandang seluas-luasnya untuk membuat negeri kita tercinta ini menjadi jauh lebih baik. Karena seperti kata God Bless: “lebih baik di sini, rumah kita sendiri”. 🙂

Advertisements

One thought on “Melawat ke Rumput Tetangga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s