Merayakan Persahabatan: Complicated Vs Simple

Perbedaan itu indah. Saya sepakat dengan kalimat itu. Seringkali keharmonisan terbentuk justru dari berbagai unsur yang berbeda, benar kan? Begitu pula persahabatan. Percayalah, dua orang yang memiliki karakter berbeda akan menjalin persahabatan yang seru. Dan ajaib. 😀

Dia adalah Ambar Kartilantika atau Tilan, salah satu sahabat saya yang ajaib. Kami mengenal satu sama lain sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, kemudian bertemu kembali di kelas 1 Sekolah Menengah Atas dan bersahabat sampai sekarang. Masa SMA itulah masa kejayaan kami, banyak hal gila yang kami lakukan bersama-sama. Kami selalu tertawa kalau sedang nostalgia mengingat kelakuan kami di masa remaja. Bolos sekolah, berburu kuis radio demi hadiah voucher warnet (waktu itu masih zaman MIRC :D), beradu akting di dalam angkot, dan masih banyak lagi yang terlalu memalukan untuk diceritakan :p. Dialah yang menamai Guli saat itu. Nama yang akhirnya menjadi bagian dari diri saya hingga saat ini.

Sejak awal, kami adalah dua orang yang berbeda. Complicated vs Simple, katanya. Tilan adalah orang yang amat sangat plegmatis dan cinta damai, sungguh berbeda dengan saya yang suka cari ribut dan menentang banyak hal. Hahaha. Anak ini memang terlihat seperti yang tidak punya masalah. Terkadang saya iri dengan kemampuannya menyederhanakan berbagai hal. Bukan, bukan menganggap enteng persoalan, tetapi memikirkan segala persoalan yang rumit dari sudut pandang yang sederhana. Darinya lah saya belajar untuk tetap tenang, santai, dan berpikir sederhana di kala kepala saya bagai benang kusut. Dia juga yang selalu mengingatkan saya untuk tidak usil dengan kehidupan orang lain.

Meskipun begitu, Tilan suka sekali berdiskusi tentang banyak hal. Dia akan senang mendengarkan cerita dari dunia baru yang tidak dia ketahui. Suatu hari, jauh sebelum saya mengenal dunia filsafat, dia bertanya pada saya “Gul, kenapa Tuhan menciptakan manusia padahal manusia banyak berbuat salah?” Nah lho! Rasanya pertanyaan itu ia lontarkan ketika kami masih berseragam putih-abu. Keresahan-keresahannya itu mungkin yang membuatnya menjadi seseorang yang berpikiran terbuka seperti sekarang.

Jauh sebelum saya mengenal kampanye-kampanye lingkungan, dia sudah lebih dulu melakukannya dalam kehidupan sehari-hari; dia sering menolak kantong plastik ketika jajan, menyimpan sampahnya sampai bertemu tempat sampah, membawa botol minum. Dia melakukan semua itu bukan untuk alasan diplomatis atau keren-kerenan agar disebut aktivis. Dia melakukannya untuk alasan sederhana. Itu yang membuat saya selalu ingat untuk terus bergerak dan bergerak.

guli tilan 4
Pulau Onrust, 2010.

Begitulah. Tuhan menciptakan perbedaan justru untuk saling melengkapi. Dan saya mensyukuri 14 tahun persahabatan kami. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Merayakan Persahabatan: Complicated Vs Simple

  1. semoga kita tetep rock n roll ya guls.
    im proud of you (sometimes..hahaha kidding)
    tetep jaga idealisme lo itu, dunia butuh orng kaya lo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s