Friendship Never Ends, Rite?

Peluh mengalir dari dahiku. Matahari di Kota Daeng ini sepertinya bukan matahari yang biasa aku temui di kotaku. Lebih panas. Kaos yang kukenakan sudah basah sejak tadi dan aku belum juga berhasil naik ke posisi paling atas dari sekumpulan batu-batu raksasa ini.

Perjuangan ini harus sebanding dengan pemandangan di atas nanti, batinku. Aku menggeser kaki kiriku, meraba dan memastikan ada pijakan yang tepat untuk menahan tubuhku. Kedua tanganku berusaha menarik bobot tubuhku yang cukup berat. Aku jadi menyesali mengapa aku sangat malas berolahraga.

“Aruna, cepetan”, Roula berteriak tak jauh di atasku.

Dasar biang kerok. Kalau saja dia tidak menuruti kata seorang bapak yang kami temui di jalan, aku tidak harus bersusah payah panjat tebing begini. Roula itu terlalu positif, rasanya sensor curiganya tidak pernah berfungsi. Dia percaya begitu saja pada orang yang baru ditemuinya. Bagaimana kalau bapak itu orang jahat? Siapa yang akan menolong kami di tempat yang sepi seperti ini?

“Yaelah. Selow aja sih, Ar”, dia menjawab santai waktu aku mengutarakan kekhawatiranku.

“Jangan selow-selow ih! Kita mesti waspada”, aku jadi misuh-misuh.

“Iya, Ar, iya”, Roula tetap berjalan mengikuti bapak itu dan sampailah kami di tempat ini, berusaha memanjat batu raksasa di hamparan taman batu Rammang-rammang.

Bapak tadi, yang bahkan aku tidak tahu namanya, sudah sampai di posisi paling tinggi dan memerhatikan kami yang sejak tadi tidak ada kemajuan. Tas bawaan kami tinggalkan di bawah. Membawa badan sendiri saja sulit, apalagi ditambah membawa ransel dengan segala isinya. Hanya kamera yang kami bawa ke atas. Segala perjuangan ini kan memang hanya satu alasannya: DIFOTO.

“La, lemes nih. Laper”, aku menghentikan usahaku untuk terus memanjat sampai di atas.

“Heh, itu tadi roti abis semua sama kamu, masih aja bilang laper?”, Roula mendelik.

“Yeee, roti doang mana cukup”, aku balas melotot.

Di atas sana, bapak berkumis senyum-senyum memerhatikan kami dan sesekali memberi arahan supaya kami bisa cepat tiba di atas. Senyum di bawah kumisnya itu semakin mengembang ketika akhirnya kami tiba di atas.

“Wooow, keren banget Laaa”, aku mengagumi tebing-tebing karst yang ada di hadapan kami.

“Tuh kan, makanya nurut aja apa kata aku. Nggak bakal nyesel deh”, Roula merasa mendapat angin segar.

Kawasan karst di Sulawesi Selatan ini ternyata terbesar kedua di dunia setelah kawasan karst di Yunnan, Tiongkok Selatan. Gugusannya membentang di sepanjang Kabupaten Maros dan Pangkep dengan luas 45.000 ha. Aku dan Roula tak berhenti berdecak kagum.

“Nggak sia-sia ya La kita manjat-manjat sampe keringetan?”, ujarku.

Bapak berkumis tertawa kecil mendengar ucapanku. Tangannya menunjuk ke sebelah kiri kami dan membuat kami melongo: sepasang kambing. Kedua kambing berwarna hitam itu memandangi kami seolah mengejek betapa kami yang harus bersusah payah membawa tubuh kami menaiki batu-batu itu, sementara si kambing bisa bolak-balik dari satu batu ke batu lainnya dengan mudah tanpa terjatuh. Kami berdua tertawa.

“Ar, naik perahu yuk?”, Roula tiba-tiba menepuk bahuku.

Duh. Apalagi nih sekarang?

***

Hari ini tepat setahun yang lalu, hari yang membuatku bahagia sekaligus bersedih. Roula menikah. Hari itu aku merasa tidak berselera terhadap apapun. Aku membayangkan tidak akan lagi bisa sering bertemu dengannya, melakukan hal gila, jalan-jalan. Dan benar saja, beberapa hari setelah menikah Roula harus pindah ke Makassar bersama suaminya. Kami tidak pernah lagi bertemu. Selama satu tahun ini, rasanya kami hanya beberapa kali saling menyapa melalui pesan singkat.

Tapi hari ini tiba-tiba ponselku berdering dengan nama Roula di layarnya. Tumben.

“Ar, minggu depan ke Makassar”, suara Roula di ujung telepon tanpa basa-basi.

“Hah? Ngapain?”. Aku terkejut mendengar ucapannya.

“Udah gak usah banyak nanya. Aku beliin tiketnya”, lalu dia menutup telepon begitu saja tanpa menunggu persetujuanku.

Beberapa menit kemudian, sebuah surel masuk: tiket online Jakarta-Makassar-Jakarta. Hampir satu tahun tidak bertemu, tiba-tiba menelepon dan membelikan tiket pesawat. Begitulah Roula. Spontan adalah nama tengahnya.

***

Sungai Pute cukup tenang. Kami berhasil mendapat potongan setengah harga untuk naik perahu menyusuri Sungai Pute menuju Kampung Berua. Pasti hasil bercakap-cakap dengan Bapak Kumis tadi. Sempat kulihat mereka berbincang, namun tidak terlalu kuperhatikan apa yang mereka bicarakan. Aku lebih memilih berbincang dengan kepalaku sendiri.

“Woiii!”, aku terkejut karena tiba-tiba perahu yang kami naiki oleng.

“Hahaha, makanya jangan ngelamun. Itu pemandangan bagus jangan dilewatin gitu aja”, Roula menunjuk tebing-tebing karst yang menjulang di kiri-kanan kami.

Sesuai harapan, perjalanan menyusuri Sungai Pute ini memang sangat mengesankan. Pemandangan eksotis yang sangat sayang untuk dilewatkan. Di titik tertentu, kami melewati lorong yang cukup eksotis melengkapi keindahan Rammang-rammang. Perjalanan yang tidak akan pernah terlupakan.

Perahu menepi di dermaga kecil Kampung Berua. Kami disambut oleh hamparan sawah yang dikelilingi oleh tebing-tebing tinggi. Di beberapa titik, tampak rumah-rumah panggung yang berdiri berjauhan. Hanya merekalah penduduk yang tinggal di kampung terpencil ini. Bangunan pertama yang kami temui adalah sebuah warung yang sepertinya memang khusus untuk wisatawan.

“La, kenapa tiba-tiba kamu beliin aku tiket ke Makassar?”, tanyaku sambil menyerahkan segelas kopi yang kupesan dari warung.

“Emang kamu nggak kangen sama aku?”, Roula menyesap kopi di tangannya.

***

Kubuka kotak kecil berwarna kuning dari Roula. “Buka kalau udah di rumah”, begitu pesannya saat mengantarku ke Bandara Hassanudin tadi pagi. Aku patuh saja sambil menebak-nebak apa gerangan isi kotak itu. Ternyata isinya foto-foto kami sejak duduk di bangku sekolah dasar dan sebuah memo. Mataku berkaca-kaca.

Dear Aruna,
Meskipun kita nggak pernah ketemu, meskipun kita jarang telepon atau smsan, kamu tetep temen aku. Friendship never ends, rite?

***

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s