Kepada Cinta di Belakangku

Kepada cinta di belakangku,

Kau tahu rasanya mengunjungi kenangan? Pedihnya mampu menembus dinding paling kokoh dalam dadamu. Sesekali, seringkali aku melakukannya; membangun benteng-meruntuhkannya-membangunnya kembali-meruntuhkannya lagi. Begitu terus sampai aku lupa betapa melelahkannya melakukan itu.

Dan di sinilah aku sekarang, berkubang kenangan yang sempat kita tinggalkan. Di dalamnya, sesal dan kesal mengendap tak terperi. Pedih, memang. Pedih karena kini hanya ada aku. Sendiri. Kau entah dimana sedang menyulam kisah lain yang kelak akan kau kenang menggantikan cerita-cerita kita.

Aku sungguh merindukan kebersamaan. Meski kerap kita temui duri di jalan yang kita lewati, tapi tawa kita terlalu indah untuk dilupakan begitu saja. Meski perih, setidaknya bukan karna kita saling melukai. Tapi sekarang kita terlalu sering menghunuskan pedang satu sama lain, berjaga siapa tahu salah satu menusuk terlebih dahulu, dan kita siap untuk mengoyaknya kemudian. Sungguh menyakitkan melihat kita memegang bara yang menyala hingga membakar tangan, hati, kepala,dan tubuh kita. Sudah lenyapkah cinta yang pernah kita pelihara?

Cinta. Entah mengapa ini begitu sulit untuk kita pahami. Kita terus saling menarik dan mendorong pada saat yang sama. Kemudian kita tak mampu menentukan apakah harus mendekat atau pergi. Dan kita tetap bergeming sederas apapun hujan di mataku, hujan di hatimu.

Apakah kita akan terus begini; tenggelam untuk menyelami kedalaman hati satu sama lain, tak mampu saling menyelamatkan?

Bawa aku ke dunia yang terang benderang dimana
semua mata melihat senyum dan tawa kita. Atau tinggalkan aku di ruang paling gelap dalam hatimu. Aku akan mencari jalan keluar sendiri. Tapi, jangan lagi kau membiarkanku dalam dimensi yang tak seorangpun menamainya. Hampa yang abu-abu. Abu-abu yang hampa.

Jika saja aku boleh meminta pada Tuhan, aku ingin meminta kembali seutas tali yang telah kutanggalkan, aku akan memegangnya untuk waktu yang lebih lama. Kemudian, akan kupelajari cara mencintai yang lebih sederhana; mencintaimu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s