Mengubah; Cinta untuk Sheila on 7

Love is blind. Begitu kata orang. Seringkali, cinta membuat orang menjadi tidak obyektif dalam memberi penilaian. Semua terlihat bagus, semua terlihat sempurna. Meskipun kita tahu ada yang salah, kita kerap memberikan argumen-argumen pembenaran pada diri sendiri.

Dalam Inferno karya Dan Brown, penyangkalan disebut-sebut sebagai cara paling primitif dalam rangka menyelamatkan diri sendiri dari kekecewaan dan ketidakberdayaan mengatasi kenyataan yang sebenarnya. Silakan cek masing-masing, seberapa banyak kita melakukan penyangkalan?

Kembali lagi pada cinta yang katanya buta. Perasaan cinta saya pada Sheila on 7 mendorong saya untuk menulis ini. Iya, Sheila on 7. Band dari Jogja itu. Saya mencintai mereka dan tidak ingin melakukan penyangkalan hanya karena cinta. Padahal cinta seharusnya mampu melihat sejelas-jelasnya lalu membantu untuk menjadi lebih baik, kan?

Sejak album terbaru mereka “Musim yang Baik” rilis, saya langsung membeli CDnya, mendengarkan semua lagunya dengan suka cita. Lalu ada hal yang sangat mengganggu. Saya putar ulang lagi dan lagi, berusaha tidak menghiraukan namun ada satu kata yang sangat ganjil di telinga saya.

image

Di lagu “Sampai Jumpa”, mereka menggunakan kata “merubah” dalam liriknya (kalau tidak salah di lagu “Canggung” juga, tapi harus saya cek lagi di cover CDnya). Dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar, “merubah” bukanlah ejaan yang tepat. Kata yang dimaksud diambil dari kata “ubah” yang seharusnya berubah menjadi “mengubah”.

Sepele, memang. Tapi cukup mengecewakan untuk orang yang terlalu mencintai mereka seperti saya. Meskipun (mungkin) tidak ada aturan baku penggunaan diksi dalam penciptaan lirik lagu, toh banyak lagu yang liriknya menggunakan Bahasa Indonesia yang awut-awutan. Tapi tetap saja, penggunaan kata “merubah” di antara konstruksi Bahasa Indonesia yang baik dan indah dalam lagu tersebut jadi membuat cela yang tak terhindarkan. Seperti cabe yang nyelip di gigi Jude Law.

Tadinya saya berharap ada yang memberitahu Mas Duta untuk mengubah kata “merubah” dalam liriknya. Saya sangat berharap, sungguh. Tak apalah lirik yang terlanjur direkam dan terjual jutaan copy, setidaknya ketika beryanyi di panggung sudah menggunakan kata yang tepat. Tapi waktu saya lihat mereka bernyanyi beberapa waktu yang lalu, ternyata masih “merubah”. 😦

Kamu boleh kesal karena aku “tukang ngatur”, tapi yang penting kamu tahu kalau aku melakukannya untuk kebaikanmu, karena aku mencintaimu. Cinta tidak akan membiarkan orang yang dicintainya melakukan kesalahan. Love is not blind. 😉

Advertisements

2 thoughts on “Mengubah; Cinta untuk Sheila on 7

  1. Sederhana dan sudah sangat sering didiskusikan, terutama pemerhati bahasa. Namun ini keren, salah satu bentuk perhatian terhadap penggunaan Bahasa Indonesia yang semrawut (terlepas dari penggunaan “merubah”). Satu hal yang ingin saya kritik adalah penggunaan kata “cabe” walaupun telah ditulis miring sebagai penanda kata tersebut tidak baku.

    Salam takzim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s