Bicara tentang Kematian

Beberapa hari lalu saya berbincang dengan seorang kawan tentang kematian. Meskipun topik ini tampak suram, kami berbincang dengan santai sambil sesekali tertawa. Teman saya ini melihat sebuah kematian bukan sesuatu yang perlu disikapi berlebihan. Percakapan ini diawali dengan sebuah pertanyaan yang saya kutip dari (lagi-lagi) buku Inferno karya Dan Brown.

Jika kau bisa menekan sebuah tombol yang akan membunuh secara acak setengah populasi dunia, akankah kau melakukannya?

Pertanyaan tersebut merujuk pada kenyataan bahwa populasi manusia di dunia meningkat pesat dan semakin tidak terkendali. Populasi manusia butuh waktu yang lama untuk mencapai angka 1 miliar. Namun hanya dalam kurun waktu yang relatif singkat, angka tersebut berlipat hingga 7 miliar. Sungguh mengerikan jika disandingkan dengan fakta bahwa daya dukung bumi untuk menyediakan sumber kehidupan semakin terbatas. Dalam buku tersebut, seorang ilmuwan memperkirakan bahwa manusia akan musnah dalam 100 tahun mendatang jika tidak dilakukan upaya depopulasi. “Menekan tombol” yang dimaksud sebelumnya adalah perumpamaan untuk upaya depopulasi oleh manusia.

Kembali pada pertanyaan soal menekan tombol kematian, sepertinya setiap orang akan menjawab dengan berbeda, tergantung mana yang lebih kuat memengaruhinya; rasio atau nurani. Ada  yang lebih baik membiarkan pada akhirnya seluruh manusia musnah daripada harus dia yang memusnahkannya. Ada yang lebih melibatkan perasaan pribadi yang merasa tak bermasalah harus menekan tombol tersebut asal orang yang dia sayang tidak termasuk yang akan mati. Ada yang lebih memilih untuk menekan tombol demi menyelamatkan manusia lainnya, meskipun dia sendiri akan mati pada saat itu.

Lalu percakapan kami berlanjut tentang cara apa yang kita pilih jika kita mengetahui waktu kematian kita. Teman saya ini memilih untuk pergi ke tempat-tempat yang ia sukai, berbahagia dengan cara yang ia senangi, lalu mati di suatu tempat yang mungkin tidak ada yang mengetahuinya. Baginya, hidup ini hanya permainan dan semua yang terjadi mungkin tidak nyata. Jadi untuk apa meratapi apa yang terjadi dan melupakan banyak hal yang harus dilakukan.

Lalu pertanyaan lainnya, memangnya kalau kita mati, berapa lama sih orang lain akan bersedih? Pada akhirnya orang hidup akan melanjutkan hidupnya; bekerja, membaca buku, pergi ke Mall, main ke pantai, ngopi-ngopi, nonton drama korea, dan nyari jodoh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s