Don’t Judge A Book by Its Cover

Suatu hari di dalam salah satu gerbong KRL Bogor-Jakarta, ada empat orang perempuan duduk berjajar. Tiga di antaranya bergaya cukup feminin dengan riasan wajah dan tak lupa tas tangan serta sepatu cantik. Satu orang yang lain, perempuan berwajah kucel yang tampak kurang kasih sayang tidur. Ia memakai jaket tebal dan sandal gunung. Di pangkuannya, sebuah ransel besar yang beratnya diperkirakan melebihi berat beban hidup para jomblo.

Kereta berhenti, seorang perempuan hamil masuk ke gerbong yang sama. Semua orang saling pandang dan kemudian pandangan terpusat pada satu titik. Yup, perempuan dengan ransel. Dan itu adalah saya. Tanpa perlu bicara, sepertinya semua orang sepakat bahwa saya harus berdiri. Benar saja, seseorang menegur saya untuk memberikan tempat duduk pada ibu hamil tersebut. Saya pun berdiri dengan rasa penasaran; mengapa harus saya?

Di antara empat orang yang duduk di sana, mengapa saya yang dinilai tidak berhak untuk duduk di kursi tersebut? Apakah tiga orang yang lain juga sedang hamil meskipun perut mereka belum membesar? Ataukah karena saya terlihat lebih “gagah” daripada yang lain sehingga sudah sepatutnya saya mengalah untuk kaum yang lemah? Tapi soal lemah atau tidak, tahukah mereka kalau saya sedang migren hebat saat itu?

Ini bukan soal saya tidak mau memberi tempat untuk ibu hamil ya (takut dihujat :p). Saya hanya jadi ingat pepatah “don’t judge a book by its cover”. Kalau benar alasan yang melatari kesepakatan imajiner antara penumpang dalam KRL tersebut adalah karena penampilan saya yang kurang “lemah”, saya jadi merasa ada yang salah. Itu berarti, kita, sepakat bahwa perempuan bergaya feminin adalah perempuan-perempuan lemah. Wah, saya koq terganggu ya dengan pemikiran semacam itu.

Tapi tak bisa dipungkiri, memang masih banyak dari kita yang menilai seseorang dari penampilan luarnya. Perempuan feminin pasti lemah lembut dan pandai mengurus rumah tangga, perempuan tomboy pasti memasak pun tak bisa. Padahal tak selalu begitu. Banyak juga perempuan yang terlihat tomboy, ternyata seorang yang penuh kasih sayang. Banyak yang terlihat cantik, tapi tidak punya kepekaan pada sekitarnya. Saya sih sudah kenyang dianggap “bukan perempuan” karena penampilan saya yang asal-asalan. (Eh tapi saya sudah centil sih sekarang, haha).

Don’t judge a book by its cover. Percayalah, penampilan luar bisa menipu kita. Wajah lugu ternyata pembohong ulung, misalnya.

image

Advertisements

One thought on “Don’t Judge A Book by Its Cover

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s