Jadilah Brengsek yang Pandai

Di siang yang hujan ini, tiba-tiba saya teringat sebuah cerita dalam buku pelajaran Basa Sunda yang pernah saya baca ketika duduk di Sekolah Dasar tentang Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet (Seekor Kura-kura dan Seekor Monyet). Kalau saya ingat-ingat, sepertinya kedua satwa ini kerap muncul dalam fabel-fabel berbahasa Sunda. Entah apa alasannya. Kura-kura dan monyet seperti dibakukan untuk mewakili karakter tertentu.

Cerita yang saya ingat adalah ketika Monyet dan Kuya mengambil pisang. Dalam cerita itu. Monyet melihat pohon pisang milik Kuya yang sudah matang buahnya. Ia menyampaikan kepada Kuya tentang hal tersebut dan menawarkan bantuan untuk memanen pisang dengan syarat diberi setengah bagian dari hasil panen. Kuya menyetujuinya.

Namun dasar Si Monyet licik, ia merencanakan untuk membawa kabur semua pisang yang akan diambilnya dari pohon pisang milik Kuya. Sialnya, rencana tersebut diketahui oleh Kuya. Kuya pun tak mau kalah strategi. Ia pun melubangi karung yang akan dipakai untuk membawa pisang tanpa diketahui oleh Monyet.

Alhasil ketika Monyet mengambil pisang dan memasukkannya ke dalam karung, pisang berjatuhan ke bawah, ke tempat Kuya sedang menunggu. Sementara Monyet mengambil pisang dengan semangat menggebu untuk segera kabur, Kuya justru sedang asik memakan pisang-pisang yang berjatuhan kepadanya. Setelah pisang yang matang sudah diambil semua, monyet pergi terburu-buru bersama karung yang tidak disadarinya hanyalah karung kosong. Kuya sih duduk santai sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.

Membaca cerita di atas, saya yang pada saat itu masih bocah ingusan, tentu tertawa atas kebodohan Si Monyet. Serakah dan bodoh, sungguh malang nasib Si Monyet. Kedua hal tersebut sudah menguasai jiwanya sehingga ia bahkan tidak menyadari karung yang dibawanya sudah dilubangi. Dalam pikirannya hanya ada satu hal: bagaimana caranya membodohi Si Kuya. Kenyataannya, dia yang dengan tragis dibodohi oleh Si Kuya.

Cerita Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet di atas tentu saja maksudnya mengajarkan kita supaya menjadi orang yang jujur dan tidak serakah. Seandainya saja Si Monyet tidak berusaha membohongi Kuya, tentu ia akan tetap mendapatkan pisang sesuai kesepakatan yang telah dibuat. Seandainya saja Si Monyet tidak berniat jahat, tentu juga Kuya tidak akan sampai hati menjahati Monyet dan mereka tentu akan hidup rukun dan harmonis. Tapi seandainya saja Si Monyet sedikit pandai, tentu ia akan berhasil membodohi Kuya tanpa ditertawakan pembaca.

Cobalah belajar dari kisah Si Monyet: jadilah orang yang jujur. Kalau memang kamu tetap mau jadi orang brengsek, setidaknya jadilah brengsek yang pandai. Gitu, nyet.

wpid-logo-4.png.png

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s