Budi dan Paus Sirip Putih

Budi bermimpi, ia dan ibunya pergi ke dunia bawah laut. Berenang di laut tentu bukan hal yang aneh bagi Budi, ia terbiasa bermain dengan teman-temannya di sana. Tapi kali ini lain. Budi dan ibunya berenang ke laut yang paling dalam. Budi merasa asing dengan kesunyian dasar laut. Ini terlalu sunyi, aneh sekali. Tapi Budi tetap bersemangat karena sudah sejak lama ia ingin pergi ke sana.

“Ingat Budi, kau tidak boleh mendekati paus dengan sirip putih,” begitu pesan Ibu Budi sebelum mereka pergi.

Budi mengangguk dengan pasti. Meskipun ia tidak mengerti alasannya, tapi ia lebih memilih menuruti kata ibunya demi tamasya dasar laut yang diidam-idamkannya itu.

Di dasar laut, Budi yang sangat bersemangat, berenang terlalu jauh dari ibunya hingga akhirnya ia tersesat. Ia tidak tahu kemana jalan pulang. Kesunyian membuatnya semakin gelisah.

Di kejauhan, ia melihat seekor paus. Budi hendak bertanya kepada paus jalan untuk bertemu ibunya kembali. Niatnya itu terhenti. Budi melihat sirip putih di sisi kiri kanan si paus. Bagaimana ini? Budi bimbang, tapi ia harus menemukan jalan untuk menemukan ibunya dan tidak ada yang bisa memberi informasi selain Paus Sirip Putih. Budi pun mendekati paus dengan perlahan dan hati-hati. Sebelum Budi membuka mulut, Paus Sirip Putih sudah membuka mulut terlebih dahulu.

Lalu, HAP! Paus melahap Budi.

Budi terbangun dari tidurnya dengan jantung berdegup kencang. Ia merasa mimpinya seperti nyata. Budi mencari ibunya, tapi ibunya tidak ada. Tadi sore ibunya berkata bahwa malam ini tidak akan pulang karena harus mengunjungi seorang kerabatnya. Budi berusaha menelepon ibunya tapi tak bisa karena kehabisan pulsa. Di pagi harinya, ia diajak kawan-kawannya berenang ke dasar laut. Meskipun takut karena mimpinya semalam, ia menurut saja. Mungkin bermain bersama kawan-kawan akan membantunya melupakan mimpi buruk semalam.

Tak disangka, di dasar laut ia bertemu ibunya sedang berenang bersama… Oh tidak! Itu si Paus Sirip Putih! Budi pun melesat menghampiri ibunya sambil berteriak-teriak memanggil ibunya. Ia berenang sekuat tenaga dan berhati-hati karena takut menabrak terumbu karang. Ibu! Budi sangat panik dan takut Paus Sirip Putih menelan ibunya.

Tak lama kemudian Budi berhasil menggapai ibunya. Ibu Budi melihat Budi dengan tersenyum seraya berkata: “Akhirnya kamu ke sini sebelum ibu mengajakmu. Perkenalkan, ini ayahmu.” Sirip putih itu mengusap sirip kanan Budi.

***

Cerita ini ditulis untuk menjawab tantangan mengarang dalam @30haribercerita.

Advertisements

2 thoughts on “Budi dan Paus Sirip Putih

  1. Keren Guli.. aq harus mencari tempat khusus untuk membacanya( samping kantor pondok beratap rumbia dalam remang2 dengan cahaya bintang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s