Batas Panggung

Seusai mementaskan monolog “Kenang-kenangan Seorang Wanita Pemalu” karya W.S. Rendra kemarin, saya jadi teringat sebuah puisi Wiji Thukul yang sangat disukai kawan saya. Puisi itu berjudul “Batas Panggung”.

Batas Panggung

kepada para pelaku

ini adalah daerah kekuasaan kami
jangan lewati batas itu
jangan campuri apa yang terjadi di sini
karena kalian penonton
kalian adalah orang luar
jangan rubah cerita yang telah kami susun
jangan belokkan jalan cerita yang telah
kami rencanakan karena
kalian adalah penonton
kalian adalah orang luar
kalian harus diam

panggung seluas ini hanya untuk kami
apa yang terjadi d sini
jangan ditawar-tawar lagi
panggung seluas ini hanya untuk kami
jangan coba bawa pertanyaan-pertanyaan berbahaya
ke dalam permainan ini
panggung seluas ini hanya untuk kami
kalian harus bayar kami untuk membiayai apa yang kami kerjakan di sini

biarkan kami menjalankan kekuasaan kami
tontonlah
tempatmu di situ

Dalam puisi yang ditulis Wiji tahun 1991 itu menceritakan seseorang yang menegaskan bahwa ada garis yang jelas antara aktor di atas panggung dengan penonton di depannya. Garis itu adalah batas kekuasaan sang aktor untuk melakukan apapun dalam teritorinya. Sedangkan penonton? Mereka tidak punya hak atau wewenang apapun untuk mencampuri apa yang terjadi di atas panggung. Wiji menekankan dalam puisinya bahwa penonton hanyalah orang luar yang harus diam.

Tentu saja puisi Batas Panggung ini konotatif, bukan makna sebenarnya. Wiji menganalogikan kehidupan sebagai dunia di atas panggung. Lebih jauh lagi, seperti puisi-puisi Wiji lainnya, sebetulnya ini tentang penguasa dan rakyat yang harus diam. Puisi ini akan mengingatkan kita pada kekuasaan khas orde baru (saat puisi ini ditulis), dimana rakyat dibungkam. “Jangan coba bawa pertanyaan-pertanyaan berbahaya ke dalam permainan ini”, tulis Wiji. Beberapa tahun kemudian Wiji Thukul hilang.

Kembali pada dunia panggung, kehidupan kita juga ibarat panggung. Dan kita adalah aktornya. Kita punya kekuasaan penuh atas apa yang akan kita lakukan di atas panggung. Apapun komentar orang lain, mereka hanyalah penonton. Penonton tidak berhak menentukan apa yang terjadi di panggung kita. Satu-satunya penguasa adalah diri kita sendiri.

Om Awan (Bengkel Teater) dalam Bincang Pemeranan kemarin mengatakan bahwa kita tidak boleh jumawa di atas panggung. Kita harus melakukan segalanya di panggung dengan ikhlas. Karena panggung, begitu juga kehidupan (saya rasa) punya kekuatan yang mampu melumpuhkan kita.

Tapi bagaimanapun, panggung adalah milik kita. Tanggung jawab kita. Sesibuk dan seserius apapun orang lain berkomentar, toh mereka tidak akan pernah menanggung apapun resiko yang terjadi di atas panggung.

Panggung ini, kehidupan ini, baik atau buruk, hanya kita yang akan menjalaninya. Orang lain hanya akan berlalu begitu saja selaiknya penonton ketika pementasan berakhir. Jadi mengapa kita harus terbebani, kan? Mengapa kita harus menghentikan langkah hanya karena penonton meminta kita berhenti?

“biarkan kami menjalankan kekuasaan kami. Tontonlah. Tempatmu di situ.”

***
Terima kasih Ido Simbolon dan Nana Gemblong (Langit Imajinasi) untuk pementasan dan seluruh prosesnya. Terima kasih juga Indriyani untuk suara biolanya yang syahdu dan menyayat hati. :*

Advertisements

3 thoughts on “Batas Panggung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s