Monyet-monyet di Dunia

Beberapa hari yang lalu, saya menonton film Hollywood yang saya lupa judulnya. Saya bukan akan menceritakan tentang filmnya atau dengan siapa saya nonton. Saya mau membahas tentang salah satu adegan sederhana: tokoh utama sedang makan bersama keluarga sahabatnya di ruang makan. Lalu anak dari sahabatnya ini pamit untuk berangkat sekolah. Si tokoh utama menjawab sambil tersenyum “goodbye, monkey“.

Monkey? Dia menyebut anak dari sahabatnya “monyet”? Saya lalu berpikir apa yang terjadi jika di sini (baca: Indonesia) kita menyebut anak dari sahabat kita dengan sebutan monyet? Kira-kira bagaimana reaksi orangtuanya? Sekalipun sangat akrab dan menggemaskan, saya rasa “monyet” bukan kata yang cukup lucu untuk digunakan dalam konteks yang demikian dalam bahasa dan budaya kita.

Dalam kamus idiom Bahasa Inggris, monkey berarti playful child alias anak yang jenaka. Penggunaan monkey dalam percakapan film tersebut tentu bukan dalam konteks negatif. Nuansa percakapan dan intonasi juga memengaruhi kesan yang ditangkap oleh lawan bicara. Dalam bahasa pergaulan anak muda misalnya, seringkali “monyet” atau “nyet” digunakan sebagai pelengkap yang justru menunjukkan keakraban. Kalimat “dasar monyet!” akan berbeda maknanya bergantung situasi dan maksud pengucapannya (meskipun suasana hati lawan bicara bisa menentukan penerimaan :p).

Penggunaan hewan sebagai simbol tertentu sangat beragam dalam setiap bahasa dan budaya si pengguna bahasa yang bisa jadi sangat berlainan satu sama lain. Misalnya anjing yang bagi orang Barat melambangkan kesetiaan, bagi orang Indonesia justru melambangkan sesuatu yang buruk (Ajip Rosidi, 2010).

Monyet, seperti juga beberapa hewan lain, sudah kadung dipatenkan melambangkan karakter tertentu entah oleh siapa. Tidak ada kesepakatan tertulis apalagi Undang-undang yang mengatur, tapi kita semua pasti langsung akan mendeskripsikan “jelek”, “bodoh”, dan karakter buruk lainnya setiap kali mendengar kata “monyet”, sehingga tak jarang primata tersebut digunakan sebagai bagian penting untuk disematkan dalam kalimat makian atau luapan kemarahan.

Dalam Bahasa Inggris, monyet juga (lagi-lagi) digunakan dalam idiom, seperti “monkey business“, “monkey see monkey do“, “monkey talk“, dan masih banyak monkey lainnya yang hampir semuanya melambangkan hal-hal yang kurang baik. Pasti familiar dengan istilah clicking monkey kan? Istilah yang ditujukan bagi netizen yang gemar membagikan tautan (biasanya negatif) tanpa dibaca atau dicari faktanya terlebih dahulu. Sekali lagi, monkey yang menggambarkan kebodohan.

Di Jepang, sekitar abad ke-8, monyet dianggap sebagai hewan suci yang menghubungkan antara Tuhan dan manusia (beberapa agama/kepercayaan Jepang mengakui adanya Dewa Monyet). Namun sekitar abad 13, monyet mulai dijadikan metafor untuk melambangkan penipu. Metafor tersebut selanjutnya digunakan oleh masyarakat Jepang untuk melambangkan sifat-sifat negatif dari manusia, terutama untuk orang yang suka meniru orang lain. Idiom Jepang saru wa ke ga sanbon tarinai yang berarti “monyet adalah manusia tanpa tiga helai rambut”. Idiom tersebut menggambarkan orang yang tidak menyenangkan atau jahat untuk ditertawakan karena tampak bodoh.

Malang sekali nasib monyet-monyet di dunia ini sampai dilabeli hal-hal buruk yang sangat melekat dan tidak bisa dilepaskan. Bahkan terkadang, satu kata “monyet” saja sudah cukup mewakili segunung kemarahan yang diuraikan pun percuma atau hal buruk yang terlalu buruk untuk dimaafkan. Satu kata “monyet” saja sudah cukup. Ah, kamu memang monyet. :p

Advertisements

One thought on “Monyet-monyet di Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s