Emak Diet Kantong Plastik

Tadi pagi sebelum berangkat kerja, saya ngopi-ngopi sama Emak sambil makan pisang goreng buatan Emak. Selain masak-masak, coffee time juga jadi quality time buat saya dan Emak karena di dua waktu itulah kami bisa ngobrol yang sebenar-benarnya ngobrol. Tema obrolan pagi ini adalah soal kantong plastik yang (kebetulan) lagi ramai karena kebijakan plastik berbayar. Perbincangan diawali oleh Emak saya yang membahas soal tayangan televisi tentang kebijakan plastik berbayar yang diresmikan 21 Februari lalu.

“Kak, masa tadi di tv dibilangin gini ‘dana penjualan plastik akan dikemanakan?’. Koq aneh ya? Kan si toko juga plastiknya dapet beli, kalau uangnya buat dia juga ya gpp kan orang dianya yang beli kan?”

Kira-kira begitu kata Emak saya. Lalu saya sedikit menjelaskan soal kebijakan itu yang kemudian Emak saya manggut-manggut entah mengerti atau pusing. Hehehe. Tapi intinya Emak tahu kalau plastik itu bukan barang gratis. Dan berhubung anaknya ini juga suka bawel urusan sampah, Emak juga paham kalau kantong plastik itu berbahaya untuk lingkungan.

Ini saya harus bersyukur karena kebijakan plastik berbayar sangat ramai dibicarakan (terlepas pembahasannya makin aneh-aneh). Kehebohan komentar banyak orang soal kebijakan ini dampaknya cukup signifikan, setidaknya buat Emak.

Jadi, Emak ini sudah saya ingatkan dari beberapa tahun yang lalu untuk belanja pakai tas kain dan tidak menggunakan kantong plastik lagi. Saya juga memberikannya folding bag baGoes supaya mudah doi bawa kalau mau belanja. Tapi ya adaaaa aja alasannya sehingga waktu belanja masih suka pakai kantong plastik, walaupun sering juga pakai tas kain. Itu pun hanya kalau berbelanja di swalayan saja. Kalau ke warung? Ya tetap pakai kantong plastik yang sekali belanja bisa menghasilkan lebih dari 1 plastik. Alhasil banyak sekali kantong plastik di rumah kami.

20160228_161730-1.jpg
Ini dia tumpukan kantong plastik di rumah kami. 😦

Hari minggu kemarin saya beberes rumah, termasuk membereskan plastik-plastik koleksi Emak yang super banyak. Memang kami tidak pernah langsung membuang kantong plastik kecuali sangat rusak dengan alasan suatu saat mungkin bisa digunakan kembali. Tapi tanpa disadari, plastik-plastik yang kami kumpulkan itu sudah jadi gunung plastik sendiri di rumah kami yang cuma sejengkal. Iya, ini lebay. Tapi memang sangat banyak.

Kami punya kantong plastik dengan berbagai ukuran, jenis, bentuk, bahan, dll. Saya lipat satu per satu, memisahkannya berdasarkan ukuran dan bentuknya. Dan saya kesal. Hahaha. Merapikan masa lalu plastik ternyata membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sampai akhirnya saya menyerah dan berkata pada Emak, “apapun alasannya, rumah ini sudah tidak menampung kantong plastik.”

20160229_205004-1.jpg
Tas kain yang digantung dekat dapur.

Begitulah. Akhirnya Emak mau tidak mau mengakui juga kalau jumlah plastik di rumah kami sudah berlebihan. Saya gantung beberapa tas kain di dekat dapur supaya mudah terlihat setiap kali Emak mau belanja, sekalipun hanya membeli telur di warung. Kemarin Emak mulai belanja dengan tas kain ke warung, doi juga membawa beberapa kantong plastik dari rumah untuk belanjaan yang basah dan bau. Pengalaman pertamanya ini tentu menimbulkan komentar dari pemilik warung.

Emak: “Bang, saya bawa kantong sendiri.”
Abang warung: “Takut disuruh bayar ya, Bu?”
Emak: “Nggak bang, itu anak saya galak.”

Yaelah Emak. ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s