Singkong dan Keju Abad Ini

Suatu sore yang mendung-mendung galau, Mamake menggoreng singkong. Saya lalu terpikir untuk menaburi singkong yang masih panas itu dengan parutan keju. Amboooiiii, inilah surga dunia itu bro.

Gara-gara singkong tabur keju itu saya jadi ingat lagu lawas Singkong dan Keju. “Si Anak Singkong” dalam lagu tahun 80-an itu lebih suka Jaipong daripada Disco. Tak disangka tak dinyana, ia ditaksir seorang perempuan yang hidupnya “serba luar negeri”. Pemuda sederhana itu tentu saja menolak. Ia mendambakan seorang gadis yang sederhana juga. Seorang gadis yang juga suka singkong, bukannya keju.

Padahal ya mz mb bro sis, singkong pakai keju itu enaknya luar biasa. Beneran. Menurut hemat saya, ini kan bukan persoalan singkong dan keju yang berbeda karakter. Kalau singkongnya kualitas terbaik dan kejunya juga bukan yang murahan, dijamin perpaduan dua makanan ini jadi kombinasi terbaik di seluruh jagad raya. Manusia dari abad 21 sudah membuktikannya. Lihat saja banyak gerobak-gerobak franchise singkong keju dimana-mana.

Lagu, seperti juga karya seni lainnya, sejatinya mewakili persoalan kehidupan pada zamannya. Pada saat itu, persoalan krisis budaya menjadi sorotan dalam lagu ini. “Demam barat” memang bukan hal baru. Itu sudah jelas gelagatnya semenjak noni dan sinyo Belanda menginjakkan kaki di Nusantara ini. Hanya saja, semakin hari gejalanya semakin kronis. Belum lagi arus informasi yang bagai air bah dan kita terombang-ambing mencari bahtera Nuh. Dan persoalan budaya yang kita hadapi sekarang jauh lebih kompleks dari sekadar selera makan singkong atau keju.

Bagaimanapun, lagu Arie Wibowo itu sudah pasti kurang relevan dengan kondisi sekarang ini. Mana mungkin makan keju jadi persoalan buat kita-kita ini, wong kita sukanya nongkrong di kafe multinasional koq. Para pemuda harapan bangsa abad ini sudah tidak khawatir kalau pacarnya doyan makan keju, mereka lebih gelisah kalau pacarnya doyan nanya “aku gendut gak?”. It’s something kill you for billion times bro.

Doyan makan keju doang mah sepele lah. Memang lagunya ndak cocok. Sekarang sih tidak perlu merasa bersalah kalau tidak suka Jaipong. Lha zaman boyband-girlband Korea gini nyari pertunjukan Jaipong kayak nyari jodoh jarum di tumpukan jerami. Sulit.

Pemuda zaman sekarang juga tak perlu ambil pusing kalau pacarnya suka beli barang-barang dari luar negeri. Sebetulnya mereka itu nasionalis lho. Mereka itu tahu kalau barang-barang itu produksinya di Indonesia. Mereka beli barang-barang buatan Indonesia yang dijual di luar negeri itu semata-mata karena dia bangga jadi orang Indonesia. Kurang nasionalis apa coba?

Di zaman “yang kuat yang bertahan” ini, semua harus diusahakan dengan maksimal. Kalau pacarmu barang-barangnya mahal, ya kamu kerja lebih keras lah buat beliin barang-barang itu. Cowok-cowok yang merebut pacarmu karena bisa beliin ini-itu juga pekerja keras. Mereka pantang pakai harta orangtua cuma buat petantang-petenteng. Mereka itu makan cuma Senin-Kamis biar bisa nraktir pacarmu kongkow di resto mahal. Hidup ini keras, jendral! Kamu yang cuma bisa SMS “udah makan belum?” sih siap-siap ditombak pakai bambu runcing.

Begitulah. Untung lagu ini keluar tahun 80-an. Coba kalau keluar di tahun 2016 ini, pasti liriknya jadi “aku suka singkong, kau suka follow PKSPiyungan ow ow ow…”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s