Sudahlah, Cinta

Sebagai generasi 90-an, pastinya saya tidak mau ketinggalan untuk menonton sekuel film yang sangat berjaya pada masanya. AADC. Setelah 14 tahun, akhirnya abg yang sudah kelebihan umur macam saya ini diajak bernostalgia ke masa putih abu-abu. Saya datang ke bioskop dengan perasaan campur aduk antara senang, haru, dan berdebar. Rasanya seperti mau bertemu pacar yang selama ini LDR.

Sayangnya, penantian saya yang cukup lama tentang kisah Cinta dan Rangga ini tidak terpuaskan. Ada beberapa hal terasa janggal dan cukup mengganggu fantasi romantika Rangga-Cinta yang kekal selama 14 tahun dalam kepala saya.

Antara Fiksi dan Realita

Film baru dimulai, fantasi saya sudah dikejutkan dengan kehadiran Christian Sugiono. Lho ini koq ada Christian Sugiono? Rupanya ia berperan sebagai suami Maura (Titi Kamal, yang mana adalah istrinya di dunia nyata). Ini sungguh mengaburkan batas antara fiksi dan realita dalam kepala saya. Ditambah lagi Mili (Sisi Prisilia) yang dikisahkan sedang hamil, juga memang sedang dalam keadaan hamil. Gagal lah sudah saya membangun merangkai fiksi di antara fakta atau sebaliknya.

Mengapa mereka menjalani kehidupan sebenarnya, sedangkan Dian Sastro harus menjalani kehidupan fiksi yang perih? Diputusin lewat surat dan bertahun-tahun gagal move on. Ini Dian Sastro lho! Juara pertama GADIS Sampul tahun 96, pembawa obor olimpiade tahun 2008, mosok ngenes tenan uripne. Meskipun dia sudah pacaran dan bertunangan dengan pengusaha muda kaya raya, buktinya dia masih tetap ngarep sama Rangga.

Kamu Berubah!

Rangga bukan lagi Rangga yang dulu. Rangga yang saya kenal dulu adalah anak ganteng, misterius, dan ngegemesin. Cewek-cewek anak 90-an pasti kelepek-kelepek sama sosok Rangga. Tapi melihatnya sekarang dalam AADC 2, saya tidak akan jatuh cinta padanya. Terlalu bawel.

Kalau dulu diamnya Rangga terkesan misterius. AADC 2 menampilkan diamnya Rangga dengan kesan murung. Banyak adegan yang diiringi dengan suara di kepalanya yang sedang merangkai puisi. Apa-apa jadi puisi. Duh Rangga, penyair juga gak gitu-gitu amat.

Pertemuan yang dipaksakan

Memang tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Bisa apa kita kalau semesta sudah bicara? Tapi 9 tahun tidak bertemu, lalu bertemu kembali di Jogja? Kota yang -sangat-terlalu-kebetulan dikunjungi oleh geng Cinta dan Rangga. Kalau bertemu di Jakarta masih besar peluangnya, tapi Jogja?

Okelah mereka bertemu. Terus? Kenapa itu harus jadi sesuatu? Mantan pacar yang mengakhiri hubungan lewat surat dan 9 tahun tidak ada kabar sih bukan hal yang harus di-baper-in. Apalagi kalau akhirnya kita sudah move on dan menjalani kehidupan yang normal. Kalau saya jadi Cinta, punya pacar ganteng dan kaya raya seperti Trian, udah gak bakal lagi tuh inget sama cowok menye-menye yang cuma bisa ngasih puisi. Masa jauh-jauh datang dari Amerika cuma ngasih puisi? Hellaaaw.

Kurang-kurangin baper deh mbak Cinta. Kalau dulu jaman SMA sih boleh lah meleleh dikasih puisi. Tapi umur 30-an masih terjebak roman picisan sih berlebihan. Ini kan bahaya banget kalau diikuti oleh para cewek zaman sekarang. Apa jadinya coba kalau semua meninggalkan tunangan mereka demi mantan pacar yang menghilang puluhan purnama? Belum lagi, para orangtua belum tentu merestui anaknya memilih mantan pacar yang “gak jelas pekerjaannya” kan?

Sudahlah, Cinta. Jalani saja yang di depan mata. Lagian, hari gini biaya kawinan gak bisa dibayar pakai puisi. 😀

Advertisements

8 thoughts on “Sudahlah, Cinta

  1. Hahahahahah
    Emang kelamaan nih aadc 2 dibikinnya *thanks to line yg ahirnya bisa aadc 2 ada* cerita kaya gini harusnya maksimal 5 – 7th setelah aadc 1.

    Mugkin produser dan sutradara jg bingung bikin cerita yg pas diusia mereka selain nawarin roman picisan ala abg hihihi

  2. Kisah aadc memang hanyalah sebuah cerita belaka. Namun seperti pd umumnya suatu cerita ttg manusia ya pastinya terinspirasi dr kisah nyata juga yg dibumbui dgn hal2 lain agar indah disuguhkan kedalam sebuah karya semisal layar lebar.
    Menurut sy ceritanya sangat menghibur & mengobati rasa rindu kita (terutama anak 90’an) tentang perfilman negri kita yg pernah berjaya pd masanya. Rasanya tak perlu terlalu berlebihan dlm mengomentari film ini apalg ttg pentokohanya yg mungkin dirasa tak realistis. Toh memang ini hanya sebuah karya seni, bukan kehidupan nyata yg difilmkan.
    Boleh saja berpendapat segala kisah atau kejadian dlm film ini suatu “kebodohan”. Tp jauh lbh bodoh jika beranggapan klo kisah dlm film ini adalah nyata, tambah bodoh lg masih ditonton. Sungguh bodoh… dlm hal seni.

    1. Rasanya tak perlu berlebihan juga mengomentari tulisan ini. Kecuali kalau anda Dian Sastro atau Nicholas Saputra sih boleh lah, sekalian saya mau minta tanda tangan. Terima kasih komentarnya. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s