Liburan Juga Harus Drama

Biasanya saya tidak menulis catatan perjalanan. Tapi kali ini saya akan menuliskannya, liburan yang penuh drama (padahal biasanya juga hidupnya memang penuh drama :p). Ini agak panjang dan tidak penting. Tapi saya gatal kalau tidak bercerita pada kalian, khususnya yang senang sekali menyimak drama kehidupan saya yang menggemaskan ini. Hahaha.

Begini ceritanya:
Saya sudah berencana sejak lama jika berhasil melewati 1 tahun di tempat kerja yang sekarang, saya akan merayakannya. Saya akan menghadiahi diri sendiri dengan jalan-jalan. Kenapa? Karena itu adalah keberhasilan buat orang macam saya yang you know lah. :p

Ternyata saya berhasil. Saya berhasil melewati 1 tahun yang penuh drama. Hahahaha. Maka kemarin saya berangkat liburan. Tak perlu jauh, naik kereta ke Sukabumi cukup lah buat refreshing. Saya ajak seorang kawan buat menemani.

Beberapa hari sebelumnya, saya sudah membeli tiket kereta untuk 2 orang. Saya pilih gerbong ekonomi seharga 25.000 per orang. Perjalanan hanya 2 jam sih tak perlu naik kereta eksekutif lah, pikir saya. Kami akan main ke Selabintana. Sederhana saja: kami mau piknik sambil foto-foto. Sudah, itu saja. Tapi karena Sabtu pagi masih harus mengerjakan beberapa hal, kami baru bisa berangkat siang. Kami pun memesan penginapan via online, sebut saja Hotel A. Murah dan dekat dengan tempat tujuan kami. Cuuss lah.

20160514_154733-2.jpg

Sabtu sore, kami tiba di Sukabumi. Saya sudah riset (baca: nanya temen) tentang angkutan umum menuju Selabintana. Kami naik angkot pink dari depan stasiun, lalu lanjut naik angkot merah ke Selabintana. Sampailah kami di Hotel A. Tempatnya sejuk dan asri. Asik nih, pikir kami. Tapiiiii, drama pun dimulai.

Begitu kami masuk ke lobi dan menunjukkan kode booking. Sang resepsionis mengatakan sesuatu yang super sekali: “hotel yang mba pesen bukan ini”. Hah? Gimana maksudnya? Kami salah hotel? Tapi namanya bener koq. Alamatnya juga bener. Ternyata oh ternyata, Hotel A itu ada dua. Dan yang kami pesan via online itu terletak di pusat kota Sukabumi. Jelas alamatnya beda. Kami tidak mengeceknya. Gembel!

Kami pun turun lagi ke kota setelah diberi petunjuk oleh resepsionis yang tadi. Bayangan untuk bersantai di tempat yang sejuk dan asri tadi pupus sudah. Se-indah-indah-nya hotel di pusat kota buat liburan sih tetap saja kurang asik. Tapi kami berusaha optimis, siapa tahu tempatnya menyenangkan.

Kami tiba di jalan yang dimaksud dan mencari Hotel A. Pastinya kami mencari bangunan luas seperti yang dicantumkan dalam iklan di internet dong. Lalu kami menemukan sebuah plang kecil yang jadul bertuliskan nama hotel yang kami cari. Sepertinya harapan kami terlalu muluk. Bahkan kamar yang kami pesan menawarkan city view hanya menghadap kandang ayam dan beberapa rumah. Itupun karena kamar mandi bermasalah, akhirnya kami dipindahkan ke kamar yang hanya menghadap tembok. Oh, malangnya kami.

Ya sudah, bagaimanapun holiday must go on. Liburan itu harus dinikmati apapun kondisinya. Pokoknya besok piknik! Malam ini kami hanya akan berjalan di sekitar hotel dan beristirahat saja. Sayang disayang drama belum berakhir. Di saat seperti ini, maag saya kambuh. Alamak! Semalaman perut saya sakit. Jangankan jalan-jalan. Duduk atau berdiri tegak saja saya tidak sanggup. Harus banget kambuh di saat begini, Gul? Harus banget hah? Alhasil, saya hanya bisa berbaring (dan mewek) semalaman sampai minggu siang. Untung teman saya cukup sabar dan cekatan memberi pertolongan pertama, kedua, dan ketiga.

Kami gagal piknik di Selabintana. Tapi masih belum terlambat untuk pergi ke suatu tempat yang dekat. Setidaknya harus ada bukti kalau kami ke Sukabumi. Oke, mochi! Kami harus membeli mochi Lampion yang terkenal itu. Setelah check out dari hotel, kami pun menuju ke Jalan Kaswari untuk membeli mochi. Aman.

20160515_115657-1.jpg

Tapi jam baru menunjukkan pukul 12 siang, dan kereta kami pukul 16.20. Kemana dong nih? Kami berdua tak punya ide mau kemana karena waktu yang tersisa tanggung juga.

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi kemana saja kaki melangkah. Kami naik angkot putih di Jalan Bhayangkara yang bahkan kami tidak tahu si angkot ini menuju kemana. Hahaha. Udahlah ya kagok backpacker-an, kata teman saya. Saya tanya sopir angkot tempat makan enak yang kemungkinan dilewati oleh rute angkot ini. Dia menyebutkan nama rumah makan dan mengantarkan kami ke lokasi meskipun bukan rutenya. Mungkin karena penumpangnya hanya tersisa kami berdua atau mungkin dia kasihan melihat saya yang pucat pasi dan jomblo.

Taraaa! Ternyata kami dibawa ke resto Mamih Ungu. Sepertinya cukup terkenal karena banyak juga pengunjungnya. Kami duduk di lantai dua yang bertuliskan Imah Kopi. Tempatnya enak. Dan makanannya enaaaak. Terima kasih mamang angkot. Setidaknya hari ini kami disenangkan oleh makanan enak (walaupun saya sih tetep nahan perut yang perih).

20160515_125638-1.jpg
Nasi Ayam Hainan dan Sapo Tahu Seafood ini enak.

Kami putuskan untuk menghabiskan waktu di tempat itu saja sampai jadwal kereta nanti sore. Kebetulan juga siang itu Sukabumi sangat panas, kami tidak mau menambah derita ini dengan berjalan kaki tanpa tujuan. Jadi kami hanya berbincang sambil minum kopi (padahal perut udah semaput :D).

Kami naik kereta masih dengan gerbong ekonomi, tapi kali ini di bangku 3. Sudahlah kita tutup saja liburan ini dan nikmati perjalanan pulang. Di bangku yang berhadapan dengan kami, duduklah keluarga yang terdiri ayah, ibu, dan anak yang mungkin baru 5 tahun. Kami ketiduran karena lelah. Begitu saya terbangun, sebuah drama berikutnya sudah siap menyambut. Saya disuguhkan pemandangan yang paling tidak ingin saya lihat di saat perut perih dan mual seperti ini: anak di depan saya muntah. Ibunya dengan sigap mengelap muntahan si anak. Daaaan mengibaskan lapnya di atas kaki kami. Lengkap sudah penderitaan ini!

Begitulah. Hidup ini memang seringkali harus didramatisasi biar seru. Film india saja kurang lengkap kalau kesedihannya tidak ditambah hujan (dan nyanyi). Pesan saya: pikniklah sejak dalam pikiran. Jadi sekalipun liburanmu drama, setidaknya pikiranmu tetap senang.

Baiklah. Ini sudah Senin. Drama yang lain sudah menanti!

*ngunyah obat maag*

img1463320750932.jpg
Setidaknya ada bukti lah saya ke Sukabumi 😀
Advertisements

2 thoughts on “Liburan Juga Harus Drama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s