Melipat Sajadah, Melipat Jarak

Setiap kali Ramadhan tiba, umat muslim menyambutnya dengan perasaan yang beragam; bahagia, sedih, haru, dan berbagai perasaan lainnya. Bahagia karena Ramadhan adalah bulan penuh berkah, sekecil apapun kebaikan akan berlipat ganda berkahnya di bulan ini. Sedih karena rasanya waktu berlalu begitu cepat sedangkan diri in masih begitu-begitu aja, masih banyak salah dan dosa. Dan masih jomblo.

Tapi ada satu hal yang setiap tahun mengusik dan mengganggu kedamaian saya di bulan seribu bulan ini. Gangguan itu datang setiap kali melaksanakan shalat tarawih di masjid. Entah kapan awal mulanya, mungkin 4-5 tahun lalu, tarawih saya terganggu karena pikiran saya yang usil terhadap sajadah. Iya, sajadah.

Sajadah, seperti yang kita tahu, adalah alas yang digunakan untuk shalat. Sejauh kemampuan saya mengingat, sajadah yang saya kenal pertama kali bergambar ka’bah di bagian atas dan pilar masjid di bagian bawah. Seiring waktu, sajadah mengalami transformasi motif, bahan, bentuk, sampai ukuran. Nah, ukuran inilah yang membuat saya “usil”.

Saat ini ukuran sajadah sangat beragam, mulai dari yang besar sampai besar banget. Rasanya saya tidak pernah lagi menjumpai ukuran sajadah yang pas selebar bahu manusia normal seperti sajadah yang umum digunakan puluhan tahun lalu. Tarawih, shalat ied, shalat idul adha, semua orang menggunakan ukuran sejadah yang lebar. Transformasi ukuran sajadah ini akhirnya menyebabkan transformasi fungsi sajadah itu sendiri dan sedikit banyak mencerabut kita dari esensi shalat berjamaah.

20160617_210505
Sajadah jadul

Merapatkan Shaf

Ini mungkin tidak terjadi di semua masjid, mushola, atau tempat lain. Tapi seringkali saya jumpai ketika shalat berjamaah, sajadah seperti menjadi alat untuk menentukan wilayah kekuasaan seseorang. Semakin lebar sajadahnya, semakin lebar pula wilayah kekuasaannya. Mungkin dengan begitu, mungkin lho ya, mereka menjadi merasa lebih nyaman dalam melaksanakan shalat karena tidak terlalu berhimpitan dengan orang di kiri dan kananya.

Sayangnya, banyak yang mungkin lupa bahwa dalam shalat berjamaah tak boleh ada celah di antara jamaah. Bahu bertemu bahu. Imam shalat seringkali mengingatkan makmum untuk merapatkan shaf sebelum shalat berjamaah dimulai. Sebuah hadist bahkan mengatakan bahwa setan akan masuk di celah-celah shaf. Tapi sajadah memisahkan kita.

Sumber gambar: http://eritazurahmi.com/
Sumber gambar: http://eritazurahmi.com/

Sajadah Bukan Kavling

Jika kita kembali pada asal mula sajadah, kita akan menemukan konsep awal penggunaan sajadah. Sajadah adalah alas shalat yang mana perannya bisa digantikan oleh benda lain yang sejenis; tikar, karpet, kain. Apapun. Asal bersih dan suci dari najis karena salah satu syarat sah shalat adalah badan, pakaian, dan tempat shalat suci dari najis. Bahkan tanpa alas pun jika lantai bersih, tak masalah melakukan shalat di atasnya*.

Jauh sebelum teknologi dan kreativitas manusia berkembang seperti sekarang ini, alas shalat hanya berupa tikar atau karpet polos. Bahkan puluhan tahun lalu (mungkin masih ada juga sampai sekarang), masjid-masjid hanya menggunakan karpet polos berwarna hijau, tidak bergambar dan diberi garis-garis pembatas**.

Tak jarang dua sajadah yang dihamparkan sesungguhnya bisa diisi oleh tiga orang, namun  seringkali masing-masing pemilik sajadah tidak ingin bergeser dan memberi tempat bagi orang lain. Seolah tak rela jika tidak berdiri secara presisi di tengah sajadah. Mereka juga biasanya tidak rela bagian sajadah mereka yang lebar itu sedikit pun tertutupi sajadah orang lain (yang juga lebar). Bahkan di tempat ibadah pun kita menjadi sangat egois.

Ingatlah, sajadah bukan kavling-kavling eksklusif untuk melaksanakan shalat. Lipat sajadahmu, lipat jarak di antara kita, karena sejatinya shalat berjamaah adalah untuk menguatkan silaturahmi, mengendalikan diri, dan mempersempit kesenjangan.

*Ada hadist yang meriwayatkan bahwa zaman Rasulullah saw memerintahkan para sahabat untuk sujud dengan dahi langsung menyentuh tanah dalam shalat mereka. Ada juga hadist yang menyebutkan bahwa Rasul pun pernah shalat menggunakan alas dari pelepah kurma.
**Sebuah hadist pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah meminta sahabat mengganti alas shalat yang bermotif dengan alas yang polos karena dapat mengganggu kekhusyukan shalat.

 

wpid-logo-4.png.png

Advertisements

2 thoughts on “Melipat Sajadah, Melipat Jarak

  1. kalau aku dulu malah sering sholat ied gak bawa sajadah.. karena punya yang lain pasti sajadahnya lebar lebarrrr.. sehingga aku bisa nebeng ketika imam minta merapatkan shaf 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s