Balada Pengendara Motor

Satu tahun enam bulan bukan waktu yang lama, tapi juga tak bisa dibilang sebentar untuk sesuatu yang dijalani setiap hari. Setidaknya ada kurang lebih 547 hari telah berlalu, yang berarti bisa jadi ribuan kisah yang dialami dalam kurun waktu tersebut. Kisah yang terlalu ngegemesin untuk dilewatkan begitu saja. Jadi, saya akan menulisnya dengan segenap jiwa raga.

Saya sudah 18 bulan (akhirnya) mengendarai Si Kotaro, motor kesayangan saya. Tidak setiap hari, tapi sudah bisa disebut lumayan rutin. Kalau tidak dalam keadaan sakit atau pergi sangat jauh, biasanya saya selalu bersama Kotaro. Nah, hari-hari bersamanya ini yang memberi warna baru untuk hidup saya. Drama baru setelah drama menahun bersama angkot. Hahaha. Mungkin semua orang pernah mengalami juga hal-hal menyebalkan yang akhirnya hanya bisa mengelus dada.

5 Detik Ujian Kesabaran

Saya tidak habis pikir mengapa kebanyakan pengendara motor memiliki tingkat kesabaran di bawah titik nol. Contoh sederhananya, tengoklah di persimpangan jalan. Motor-motor akan berlomba untuk berada di bagian paling depan untuk menunggu lampu merah berganti hijau. Perihal simpang jalan ini sudah seperti arena balap. Begitu lampu hijau menyala, yang lebih dulu melaju adalah yang menang. Masalahnya, ketika para pembalap jadi-jadian itu ingin berada paling depan di lampu merah, mereka akhirnya melewati batas normal area menunggu. Seringkali mereka akhirnya tidak bisa melihat lampu lalu lintas yang berada di belakang mereka. Akhirnya mereka jadi sasaran klakson-klakson tidak sabaran di belakangnya. Iya, klakson ini dibunyikan berkali-kali bahkan ketika lampu merah baru berganti kuning. Mereka bahkan tidak sabar menunggu 5 detik sampai lampu hijau benar-benar menyala.

Semua Orang Salah, Gue Bener

Suatu hari saya sedang melaju bersama Kotaro seperti biasanya. Saya mengambil jalan di sisi kiri karena tidak jauh di depan, saya akan belok ke kiri. Tiba-tiba saja sebuah motor di depan saya yang awalnya mengambil jalur ke kanan, secara mendadak belok ke kiri sehingga hampir saja kami bertabrakan. Apa yang terjadi selanjutnya? Dia menyusul dan menyejajari motor saya, berteriak memaki bahwa saya tidak bisa mengendarai motor dengan baik. Lalu dia pergi. Saya shock. Kenapa dia yang marah padahal jelas dia yang salah? Bukan Guli namanya kalau ada orang yang seenaknya seperti itu. Saya tancap gas menyusul orang itu, saya dekati motornya, lalu saya berteriak dan memaki orang itu. Setelah memaki, saya langsung berbelok ke sebuah perumahan dan menghentikan motor. Bukan, saya bukan ngarep dia mengejar karena dia ganteng dan kemudian terjadilah kisah-kisah drama korea. Saya berhenti karena harus meredakan jantung yang berdebar hebat akibat ketakutan karena sok berani. Hahaha.

Begitulah. Di jalan raya itu sepertinya hanya satu hukum yang berlaku “semua orang salah, gue bener”. Hanya itu. Jadi apapun yang terjadi, semua orang merasa dirinya tidak melalukan kesalahan. Sekalipun salah, setidaknya bersikaplah seperti orang yang benar. Ngotot aja dulu, ngakunya belakangan. 😀

Disorientasi Arah

Ini pasti sudah sangat umum terjadi. Bahkan di media sosial banyak beredar meme-meme tentang penyakit berkendara yang satu ini. Belok kiri, lampu sennya ke kanan. Gemes yaaa? Penyakit yang satu ini selalu diidentikkan dengan ibu-ibu yang mengendarai motor matic. Jika dibuat level, seolah-olah mengendarai motor matic lebih rendah kastanya dari segala jenis motor lain. Pasalnya, tidak terlalu sulit untuk mengendarainya: hanya gas-rem-gas-rem. Saking gampangnya mengendarai matic, orang sampai tidak perlu memiliki kemampuan untuk membedakan kiri dan kanan. Faktanya (yang saya jumpai), pelaku kejahatan ini bukan hanya perempuan alias ibu-ibu. Sering juga saya menemukan bapak-bapak yang melakukan hal serupa, termasuk tidak mematikan lampu sen setelah berbelok. Terlepas dari alasannya lupa atau memang punya penyakit disorientasi arah kronis, persoalan lampu sen yang seolah sepele ini bisa juga membahayakan diri sendiri maupun pengendara lain.

Salip-menyalip

Dulu, waktu saya masih jadi boncenger alias orang yang selalu minta dibonceng, saya paling cerewet kalau yang memboncengi saya kebut-kebutan dan menyalip kendaraan lain setiap ada kesempatan. Dua kali mendapat kecelakaan yang lumayan parah saat dibonceng, memang membuat saya jadi sedikit paranoid kalau dibonceng. Tapi ternyata sekarang saya baru tahu rasanya jadi pengendara motor memang tidak bisa tidak menyalip, terutama jika berada di belakang tiga hal yang paling harus dihindari.

  • Angkot
    Saya peringatkan, jangan pernah mencoba menguji kesabaran dengan berkendara di belakang angkot, setidaknya di Bogor ini. Hanya Tuhan dan sopir angkot yang tahu kapan dia akan melalukan apa. Tiba-tiba menyalip, tiba-tiba berhenti, belok tanpa sen. Meskipun tidak semua sopir angkot menyetir dengan sembarangan, tetap saja lebih baik menghindari berada di belakang angkot. Meskipun menyalip angkot di kota yang punya 3.412 angkot* ini merupakan sebuah utopia, tetap saja menyalip lebih baik daripada tidak.
  • ABG
    Pasti sudah sering kan lihat ABG-ABG mengendarai motor? Entah kenapa mereka ini senang sekali menaiki motor 3 orang. Mungkin karena motornya hanya ada satu sedangkan mereka harus bertiga atau mungkin ada alasan lain. Biasanya mereka akan sambil mengobrol, pegang hp (terkadang sambil selfie), lalu tertawa-tawa. Karena begitu produktifnya kegiatan mereka di atas motor, maka laju motor mereka pun akan lebih lambat daripada yang lain. Sebaiknya salip saja, mereka tidak akan menambah kecepatan karena khawatir rambutnya yang baru keramas itu jadi berantakan.
  • Bernyawa 9
    Saya sih kalau ada pengendara yang tidak memakai helm atau tidak memiliki kaca spion, saya sebisa mungkin akan mendahuluinya. Apalagi motor yang tidak memiliki lampu sen. Menurut saya, pengendara seperti ini untuk keselamatannya saja tidak ia perhatikan, apalagi keselamatan orang lain. Sebelum ia menyebabkan hal-hal yang bisa merugikan, lebih baik menghindarinya.
  • Tamasya
    Hari Minggu pagi atau sore biasanya banyak pengendara motor yang sedang tamasya dengan membawa anaknya yang masih balita di bagian depan. Mereka akan melaju dengan sangat pelaaaan sambil melihat pemandangan kiri dan kanan. Sekalipun pemandangan yang disajikan adalah ruko-ruko dengan cat mengelupas, tidak mengurangi khidmatnya ritual tamasya bapak-anak ini. Kalau kamu sedang bergegas, sebaiknya langsung saja dahului mereka. Kecuali kalau sedang galau dan merasa memandang cat tembok ruko jauh lebih baik daripada memandang masa depan yang suram.
  • Sepasang Kekasih
    Kalau di depanmu ada sepasang kekasih di atas sepeda motor dan sang perempuan sedang memeluk mesra sang laki-laki. Salip. Bukannya apa-apa, pemandangan seperti ini tidak baik bagi kesehatan jiwa para jomblo macam kalian. Hahaha.

Karena kelakuan banyak pengendara yang bikin geleng-geleng kepala, sebaiknya kita juga jangan polos-polos amat lah jadi pengendara. Patuh terhadap lalu lintas itu wajib, sabar juga perlu. Kalau ada pengendara yang seenaknya, sebaiknya ditegur. Karena hal salah yang terus dibiarkan lama-lama akan dianggap hal yang biasa bahkan benar. Meskipun kecelakaan bisa terjadi kapan saja dan dalam kondisi apapun, bukan berarti kita tidak berusaha mengurangi kemungkinannya kan?

B612_20160619_112218
Kotaro di Gunung Salak Endah

 

* Jumlah 3.412 angkot disampaikan Ketua Organda Kota Bogor, Muhammad Ischak AR, dalam artikel Bogordaily.net (Mei 2016).

** Featured Image diambil dari kidnesia.com.

Advertisements

3 thoughts on “Balada Pengendara Motor

  1. Aduh aku selalu tersiksa sama keberadaan motor (biarpun sering pake Gojek) T_T Bener banget motor gak bisa sabar. Terus entah mengapa aku selalu dapet kesan kalo pengendara motor itu males banget ngerem 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s