Baju Lebaran dan Bongkar Lemari

“Baju baru alhamdulillah
‘Tuk dipakai di hari raya
Tak punya pun tak apa-apa
Masih ada baju yang lama”

Generasi seangkatan saya pasti tak asing dengan lagu yang dinyanyikan oleh Dea Ananda tersebut. Lagu yang dirilis tahun 1997 itu cukup populer pada masanya, terutama menjelang lebaran tiba. Lebaran kali ini, saya kembali teringat pada lagu tersebut. Benarkah tak apa-apa memakai baju lama di hari lebaran?

Faktanya, sebagian besar umat muslim tak pernah absen membeli baju baru dalam menyambut hari raya. Minggu terakhir ramadhan yang sepatutnya menjadi minggu paling banyak diisi ibadah, justru bagi sebagian orang menjadi minggu paling sibuk dengan segala perintilan lebaran. Mulai dari mencari ketupat, memasak daging, sampai berburu baju baru untuk dipakai di hari raya.

Budaya membeli baju baru untuk lebaran memang bukan hal baru untuk diperdebatkan. Setiap tahun ada saja yang membahas soal perlu-tidak perlunya membeli baju lebaran. Konon, kebiasaan memakai baju baru saat Idul Fitri sudah umum dilakukan sejak zaman para sahabat Rasul. Meskipun tak ada ayat Al-Quran yang menyerukan untuk umat muslim membeli baju baru, tetapi ada hadist yang menganjurkan untuk berhias di hari raya dan memakai pakaian terbaik.

Mungkin “memakai pakaian terbaik” ini yang akhirnya multitafsir. Beberapa pendapat menyatakan bahwa dianjurkan/diperbolehkan untuk memakai baju baru pada hari raya. Ada juga yang berpendapat bahwa pakaian terbaik tak harus baru. Saya mengamini pendapat yang terakhir. Namun budaya baju lebaran sudah sangat merajalela sehingga sukar untuk mengelaknya. Sadar atau tidak, akhirnya kita terjerat perangkap konsumerisme setiap kali lebaran tiba. Saya membaca ulasan menarik dari Arman Dhani tentang kebiasaan konsumtif berjudul “Cukup dan Bahagia” yang diawali dengan kalimat di bawah ini.

Konsumerisme membuat manusia tidak bahagia. Keinginan untuk memiliki membuat manusia terbebani untuk terus membeli hal yang tidak ia butuhkan. Beberapa orang merasa belanja membuat stres berkurang, tapi sampai kapan? Menumpuk barang-barang yang tidak dibutuhkan membuat manusia semakin terasing dan depresi. Riset dari keluarga di Amerika oleh UCLA menunjukkan fenomena yang mereka sebut “Masalah di Surga.” Mereka yang memiliki terlalu banyak.

 

Bongkar Lemari

Berawal dari postingan Shelly (salah satu member #1Minggu1Cerita) bulan Mei lalu yang berjudul Bersihkan Hati Melalui Lemari?, berhasil membuat lima orang dari grup tersebut menjadi gelisah. Intinya, tulisan Shelly tentang kebiasaan kita yang sangat konsumtif untuk membeli barang-barang yang sebetulnya tidak diperlukan itu sangat mengusik kami. Setelah seperempat abad hidup kami, akhirnya kami tersadar betapa banyaknya barang-barang yang kami beli tetapi hanya berakhir menjadi penghias lemari setelah hanya terpakai satu atau dua kali. Bahkan beberapa barang belum pernah dipakai sama sekali. Pakaian, misalnya.

Alhasil, semakin hari lemari pakaian semakin penuh padahal tidak semua pakaian terpakai.  Belum lagi, saya misalnya, termasuk orang yang memakai pakaian yang itu-itu saja (kaos dan celana jeans) bahkan untuk bekerja. Jadi pakaian lain cukup jarang dipakai, terutama baju-baju “cantik” karena saya bingung mau memakainya kemana.

Kondisi ini mungkin tidak hanya dialami oleh kami, tetapi juga oleh sebagian perempuan lain. Kaum perempuan memang yang paling umum mengidap “penyakit” gila belanja. Lihat baju lucu sedikit, beli. Apalagi kalau sudah diiming-imingi diskon, barang yang sebetulnya tidak diperlukan pun akhirnya dibeli hanya karena “mumpung murah”, padahal diskonnya cuma dua rebu perak. Pasar tengah malam di negeri antah berantah pun akan dikejar demi diskon berlapis.

Kami mulai gelisah untuk mencari solusi atas “kelebihan” barang yang menumpuk di rumah kami. Lalu tercetuslah ide di antara kami berlima untuk membuat sebuah gerakan bernama “Bongkar Lemari”. Maklum lah ya kalau berteman dengan para aktivis, rasanya tak afdol kalau tidak membuat gerakan. Hahaha.

Bongkar Lemari ini konsep kasarnya adalah mengeluarkan barang-barang yang jarang terpakai dari lemari kami. Prinsipnya “tidak memiliki barang berlebih” seperti yang dianut Reza, suami Shelly. Nah, barang berlebih ini kami berharap bisa memberikannya kepada orang yang betul-betul sangat dibutuhkan, bukan yang sekadar ingin. Kenapa? Karena kami ingin barang-barang ini bisa digunakan, bukan akhirnya hanya jadi koleksi penghias lemari. Kami tidak ingin hanya asal memindahkan isi lemari kami ke lemari lain. Tetapi benar-benar menjadi manfaat bagi orang lain.

Sampai saat ini Bongkar Lemari belum berjalan karena kami masih memikirkan teknis yang mudah dan efektif, mengingat kami tinggal di kota yang berbeda dan semuanya super sibuk. Tapi kami harap betul-betul bisa merealisasikannya, termasuk merealisasikan gaya hidup bijak dalam membeli pakaian atau barang-barang lain. Beli yang dibutuhkan, cukup.

B612_20160706_113344

Alhamdulillah tahun ini saya berhasil tidak membeli baju lebaran. Pertama, karena saya beberapa bulan lalu diberi baju cantik oleh Ibu Utami Utar dan belum pernah saya pakai. Kedua, baju baru tidak penting. Karena baru ataupun tidak baju yang saya pakai, tetap saja yang ditanyakan oleh keluarga besar adalah “kapan nikah”. See? 😀

PS:
Kalau ada yang punya usulan mekanisme gerakan #BongkarLemari atau ingin menjadi gerakan tersebut, atau punya referensi dan rekomendasi tentang gerakan yang mirip, silakan hubungi saya. 😉

Advertisements

12 thoughts on “Baju Lebaran dan Bongkar Lemari

  1. Aku sama temen-temenku lagi rame main Prelo, Guli. Ini apps untuk jualan barang-barang preloved alias second. Coba ulik deh, siapa tau bisa pasang harga Rp 0 😀

  2. Maklum lah ya kalau berteman dengan para aktivis, rasanya tak afdol kalau tidak membuat gerakan. Hahaha.

    #ieuPisan

    Karena baru ataupun tidak baju yang saya pakai, tetap saja yang ditanyakan oleh keluarga besar adalah “kapan nikah”.

    #danIeuPisan wkkwkwkwkk

  3. akuuu juga gak beli baju baruuu, gamis lama.. sendal udah umur dua tahun lebih. kerudung yang biasa dipake ke kantor. ahahaha..
    *pencapaian*

    mudah-mudahan istiqomah sampe lebaran-lebaran berikutnya… amiiin.

    mulai ter-isme sama postingan tentang tren hidup jepang yang super minimalis itu. walaupun yakin gak bakal bisa seekstrim itu, tapi paling gak mulai mikir mikir mikir kalau mau beli barang baru 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s