Hiduplah Seperti Artis

Saya sering membayangkan betapa susahnya menjadi artis. Bagaimana tidak, sekecil apapun yang kita lakukan pasti menjadi sorotan dan menjadi perbincangan masyarakat. Meskipun masyarakat bisa saja tidak peduli, tapi Tuhan infotainment tak pernah tidur.  Para pemburu gosip ada di segala penjuru siap menangkap pokemon artis yang berkeliaran. Apalagi artis yang sedang dilanda permasalahan, keluar pagar rumah pun sudah ditongkrongi para juru warta yang siap siaga 24 jam. Semakin pelik persoalan yang dihadapi si artis, semakin menjadi angin segar bagi acara gosip.

Rasanya saya tak akan sanggup menjadi artis. Saya yang membutuhkan waktu sangat banyak untuk menyendiri, tidak mungkin tahan setiap saat harus bersedia diwawancara wartawan, harus mau dikerumuni penggemar, belum lagi dijambak haters. Baru dua hari jadi artis, langsung gila. Iya, konteksnya artis yang terkenal ya. Bukan sekuter (selebritis kurang terkenal) yang tiap saat cari sensasi, yang ngangetin rendang aja ngundang wartawan. Mereka sih memang tujuan hidupnya adalah cari perhatian.

Tapi saya bisa merasakan betapa tersiksanya menjadi artis karena hampir sangat mustahil mereka punya privasi. Semua kehidupannya menjadi konsumsi publik. Coba bayangkan kalau hidupnya drama melulu kayak saya, bisa-bisa wartawan akan dengan senang hati membuntuti setiap waktu seperti bayangan. Dan yang pasti, tak boleh sembarangan di media sosial.

Susahnya lagi jadi artis, harus pandai berakting mengendalikan emosi, terutama jika tiba waktunya tampil di depan kamera atau penonton. Jadi artis tidak bisa menjadi orang yang ekspresif. Marah, sedih, bahkan bahagia, harus dikelola sedemikian rupa sehingga yang ditampilkan adalah wajah, gerak tubuh, dan nada bicara yang super stabil dan “baik-baik saja”.  Orang ekspresif macam saya ini tak cocok jadi artis, tak pandai pencitraan. Marah ya marah, kesal ya kesal. (Jangan marah tapi diam saja, tapi ngomongin di belakang tiap ada kesempatan).

Penyanyi misalnya, meskipun sakit, harus tetap tampil prima di depan penonton. Setidaknya itu yang sering disampaikan juri ajang idol-idol-an. Pelawak lebih sulit lagi, harus tetap tampil lucu di atas panggung atau depan kamera meskipun padahal dia sedang patah hati. Duh, membayangkannya saja aku sulit.

Itulah resiko pilihan hidup. Apapun yang kita pilih, pasti akan selalu ada resikonya, besar ataupun kecil. Dan kita sudah harus menyadarinya saat keputusan tersebut akan kita ambil.

Tapi bagaimanapun juga, kadangkala kita harus belajar hidup seperti artis. Senyum setiap saat karena semua mata sedang mengawasi, terlihat baik-baik saja meskipun sedang pusing tujuh keliling. Karena seringkali orang lain tidak mau tahu apa yang sedang kita rasakan atau hadapi dan menuntut kita untuk selalu gembira menerima perlakuan apapun dari mereka. Begitulah kehidupan, kita harus pandai berpura-pura demi kesenangan orang lain. Kalau perlu, hiduplah seperti orang gila: ketawa aja meskipun gak lucu.

Advertisements

10 thoughts on “Hiduplah Seperti Artis

  1. Ide buat ditulis kadang memang temanya tidak disangka-sangka ya teh..suka ujug2 wae pengen nulis apa. Tentang artis ini misalnya. Hehe.. Akupun suka random ide2 di kepala.

    1. Hahaha iya banget, tiba-tiba aja kepikiran “jadi artis gak enak amat ya” padahal ya emang moal kataekan juga sih… ?

  2. aku pernah dapet predikat sebagai si-nyengir.. gara-gara tiap papasan sama orang, default mukanya nyengir.. hahahaha.

    abis menurutku cuma nyengir yang bisa menyelamatkan kita dari awkward moment 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s