Pilih Menjadi Kutu Loncat atau Pohon Mati?

Beberapa hari yang lalu seorang kawan bertanya pada saya “sekarang kerja di mana?”. Ini adalah pertanyaan yang sama saat saya berjumpa dengannya dua bulan yang lalu. Sesungguhnya ini adalah pertanyaan yang selalu pertama kali ditanyakan setiap kali kami bertemu. “Kamu kan kutu loncat”, begitu katanya.

Kutu loncat atau job hopping adalah sebutan untuk seseorang yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu yang relatif singkat. Predikat tersebut merupakan penilaian negatif dalam dunia pekerjaan. Kutu loncat berarti bahwa seseorang tidak memegang komitmen dalam bekerja. Biasanya seorang kutu loncat berpindah tempat karena mendapat tawaran pekerjaan yang lebih menggiurkan. Meskipun banyak juga yang memilih untuk berpindah-pindah tempat kerja karena berbagai alasan lain.

Masa kerja memang merupakan bagian penting dalam penilaian kinerja oleh perusahaan atau lembaga tempat kita akan bekerja. Si Kutu Loncat sebaiknya menyiasati penilaian ini dengan tidak memasukkan semua pengalaman kerja ke dalam Curriculum Vitae (CV). Memang ada perusahaan yang memastikan kembali riwayat pekerjaan kita melalui proses interview. Dengan begitu, kita bisa menjelaskan mengapa durasi pekerjaan kita sebelumnya pendek. Tetapi ada juga yang langsung mengeliminasi calon pekerja hanya dengan membaca CV.

Saya sendiri pernah berada dalam fase sering berganti pekerjaan dalam tempo waktu yang singkat. Akibatnya, beberapa kawan menjuluki saya Si Kutu Loncat. Padahal pada saat itu saya memang seorang freelancer yang tidak hanya bekerja untuk satu lembaga atau bidang pekerjaan. Beberapa pekerjaan juga selesai dalam hitungan bulan karena memang kontraknya demikian. Memang sih satu-dua kali saya sempat memutuskan kontrak karena alasan tertentu. Boleh kan?

Sumber gambar: pixteller.com
Sumber gambar: pixteller.com

Bagi saya, jika suatu tempat sudah sangat tidak kondusif untuk mengembangkan diri, lebih baik mencari tempat baru yang lebih baik. Sama sekali bukan soal gaji, melainkan bagaimana kita bisa bekerja dengan riang gembira sehingga kita leluasa untuk berkreativitas dan berkarya. Jika setiap pergi ke kantor dengan perasaan tidak bahagia dan semangat, itu tandanya ada yang salah dengan keberadaan kita di sana.

Nah, kalau sudah begitu, ada dua hal yang bisa dilakukan. Pertama, cobalah mencari tahu apa yang membuat kita tidak bahagia, lalu perbaiki. Kedua, jika sudah berusaha memperbaiki keadaan dan hasilnya nihil, maka tinggalkan. Tidak ada gunanya berdiam diri di tempat yang tidak bisa kita benahi. Dan setiap saat mengeluhkan kondisi yang tidak juga kita tinggalkan adalah suatu perbuatan yang sia-sia.

if-you-dont-like-where-you-are-move-you-are-not-a-tree-quote-1

Kita bukan pohon yang tidak bisa berpindah tempat. Jika merasa tidak cocok dengan tempat yang sekarang, untuk apa diam saja? Sedangkan di luar sana masih ada tempat yang lebih baik untuk tumbuh dan berkembang. Pohon saja akan mati jika ditanam di media yang tidak tepat, kan? Lebih baik menjadi kutu loncat daripada pohon mati.

Sekalipun memilih jadi pohon, jadilah pohon yang sebenarnya: diam dan tidak berbicara. Terima saja apapun yang terjadi di tempatmu sekarang, karena mengeluh tidak akan mengubah apapun. Kalau tidak tahan, pergilah dengan terhormat dan sesegera mungkin. Tak perlu banyak drama menyebarkan hal-hal negatif pada orang lain di tempat itu.

Advertisements

7 thoughts on “Pilih Menjadi Kutu Loncat atau Pohon Mati?

  1. Saya lebih menikmati ketika menjadi kutu loncat. Karna saya senang loncat2. Meloncat itu membuat saya sadar bahwa saya hidup. Meloncat itu membuat saya sadar bahwa hidup butuh kuda-kuda yang kuat untuk dapat melambungkan diri. Orang yang tidak pernah jadi kutu loncat pasti hidupnya membosankan. Meloncat itu mengajarkan kepada saya, bahwa hidup memang harus bergerak, bergeliat. Jika hanya diam dan tak kuasa berbuat apa2, batu pun demikian. Meloncatlah setinggi dan sejauh mungkin, dengan demikian hal-hal yang selama ini gaib bagi kita dapat terlihat nyata, bukan hanya jadi semacam benang kusut di kepala. Jadilah seperti kutu loncat yang selalu menikmati hal-hal baru, pengalamam baru, petualangan baru. Itu semua membuatmu semakin kaya oleh pengalaman, bukan? Satu hal yang perlu difahami, menjadi kutu loncat jauh lebih keren ketimbang jadi kutu kupret. Ayo, kita loncat2, biar semakin dewasa. Salam.

  2. teh indri, minggu ini kita sehati ya, temanya dilematis bekerja hehehhee…
    bener banget teh “…mengeluh tidak akan mengubah apapun”, harus berani action

  3. aduuhh hehehehe saya udah cukup lama bekerja di tempat aku bekerja.. 😀
    kalau masalah jadi pekerja kantoran itu adalah menghindari kebosenan. nah harus siap mencari cara untuk menghindari hal tersebut. hehe tapi ga sedikit juga yang jadi pohon karena suatu hal sih. makanya dibetah-betahin heuheue so far, aku masih menikmati dan semoga nggak bosen hahaaa kalau bosen ya jadi kutu loncat..

  4. tertampar!

    “Kalau tidak tahan, pergilah dengan terhormat dan sesegera mungkin. Tak perlu banyak drama menyebarkan hal-hal negatif pada orang lain di tempat itu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s