Peresean; Sakit Tapi Lucu

Indonesia memang sangat kaya akan budaya. Setiap daerah di nusantara ini memiliki kekhasan masing-masing, mulai dari bahasa, cara hidup, karya seni, dan berbagai unsur budaya lainnya yang sangat menarik untuk digali.

Dua minggu sudah saya secara resmi menjadi penduduk Lombok Timur, meskipun tidak ditandai dengan KTP. Saya berada di salah satu desa di kaki Gunung Rinjani ini dalam rangka menjalankan tugas hingga akhir tahun 2017 nanti. Saya sangat antusias mengingat banyak hal yang bisa saya pelajari di sela-sela pekerjaan saya di sini. Tentu saja karena banyak tempat wisata keren yang bisa didatangi. Baru dua minggu, saya sudah mengunjungi Gili Kondo yang sangat indah itu lho. :p

Selama dua minggu ini, saya mulai mempelajari bahasa Sasak. Ini bekal yang sangat penting bagi keberlangsungan hidup saya selama di sini karena mayoritas masyarakat yang kami dampingi jarang menggunakan bahasa Indonesia. Selain bahasa, tentunya saya juga harus mulai mempelajari beragam hal menarik yang dimiliki Suku Sasak. Salah satu yang saya temui adalah Budaya Peresean.

b612_20160926_151000

Peresean merupakan tradisi bertarung Suku Sasak antara dua petarung atau dalam bahasa lokal disebut pepadu. Kedua pepadu dibekali senjata (penjalin) yang terbuat dari rotan yang ujungnya dilapisi aspal dan perisai yang terbuat dari kulit kerbau. Dua petarung tersebut harus memukul lawan di bagian pinggang ke atas. Mereka bertarung bertelanjang dada dan tanpa alas kaki. Pakaian yang dikenakan adalah celana yang dibalut kain khas Lombok, juga penutup kepala (Sapuk/Capuk).

Konon asal mula peresean ini dilakukan pada masa kerajaan untuk memilih prajurit. Selain itu juga sebagai upacara adat para prajurit kerajaan usai mengalahkan lawan di medan perang. Saat ini peresean lebih banyak digelar sebagai pertunjukan seni dalam perayaan-perayaan tertentu maupun ajang silaturahmi antar daerah. Saya menyaksikan peresean ini dalam Festival Peresean Sepulau Lombok yang dilaksanakan di Lapangan Lenek. Dalam festival ini, masing-masing daerah se-pula Lombok mengirimkan perwakilan untuk bertarung melawan daerah lain.

b612_20160926_144747

Sejujurnya, saya tidak tega menyaksikan festival ini. Saya tidak bisa membayangkan betapa sakitnya dipukul rotan berbalut aspal. Apalagi melihat luka-luka di tubuh petarung. Meskipun menurut salah seorang warga, para petarung tersebut adalah orang-orang yang sudah dibekali “ilmu” khusus sehingga tidak akan terluka parah. Tapi bagi penonton seperti saya, tetap saja rasanya sakit.

Uniknya, meskipun peresean ini ajang bertarung, pertunjukan ini disajikan sebagai tontonan yang menghibur dengan iringan musik Gendang Beleq. Awalnya saya sempat heran, mengapa para pepadu ini malah tersenyum bahkan tertawa setiap kali habis dipukul atau memukul. Ternyata memang konsepnya begitu. Selain komentar sang komentator yang lucu (meskipun saya nggak ngerti :p), para petarung pun menampilkan aksi-aksi lelucon di sela pertarungan sehingga pertunjukan ini menjadi lucu. Lelucon dan aksi-aksi menghibur yang ditampilkan selama pertunjukan ini mungkin agar penonton bisa santai menyaksikan pertarungan yang terlihat menyakitkan.

Tetap tersenyum meskipun sakit. :D
Tetap tersenyum meskipun sakit. 😀

Jadi begitu, sesuatu yang menyakitkan juga bisa jadi hal yang lucu kalau kita selow kayak di pulow. :)))

Advertisements

12 thoughts on “Peresean; Sakit Tapi Lucu

    1. Aku gak tau mereka ngerasa sakit atau ngga, tapi yang jelas setiap mau tarung mereka dikasih jampi2 dulu. Trus konon begitu pulang, lukanya bakal langsung ilang tanpa bekas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s