Belajar Bahasa Daerah, Belajar Menghargai Perbedaan

Sebetulnya pagi ini saya sedang penasaran dengan sebaris quote yang pernah saya kutip empat tahun lalu. Saya lupa mendapat kutipan tersebut dari siapa sehingga saya memastikannya dengan gugling. Hasil pencarian mengarahkan pada blog kawan saya, Brok. No wonder, siapa lagi yang meracuni saya dengan pikiran-pikiran begitu kalau bukan makhluk mungil ini. Hahaha.

Sudah lama saya tidak membaca tulisan-tulisan kembaran kawan saya itu. Jadilah saya membaca beberapa tulisan dalam blognya. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah tulisannya berjudul Keberagaman Versus Keseragaman Berbahasa, yang intinya membahas tentang bahasa daerah. Indonesia memiliki bahasa daerah terbanyak ke-dua di dunia setelah Papua Nugini. Sayangnya, perlahan tapi pasti bahasa daerah mulai punah satu per satu. 😦

Diperkirakan ada lebih dari 700 bahasa daerah di Indonesia. Saat ini baru teridentifikasi sebanyak 617 bahasa. Menurut Badan Bahasa, ada 139 bahasa daerah di Indonesia yang saat ini berada dalam status terancam punah, sebagaimana diutarakan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dadang Sunendar. (dikutip dari zonalima.com)

Tulisan Brok menarik bagi saya karena saat ini saya sedang mendapat kesempatan untuk belajar banyak tentang bahasa Sasak. Saya sangat suka belajar bahasa, bahasa apapun itu. Kebetulan saat ini saya tinggal di tanah Sasak, sedikit banyak saya jadi belajar bahasa mereka. Ini pertama kalinya saya secara intensif mempelajari bahasa daerah selain bahasa Sunda.

Bahasa daerah sebetulnya saling memengaruhi antara satu dan yang lain, karena kebanyakan memang berasal dari satu sumber, yakni Austronesia. Kemudian beradaptasi sesuai lokalitas masing-masing. Ini menarik.

Bahasa Sasak sendiri sedikit banyak dipengaruhi (atau malah memengaruhi?) bahasa Bali dan Jawa karena secara historis memang pernah “dijamah” oleh kerajaan dari kedua pulau tersebut. Tak heran banyak kosakata yang mirip dengan bahasa Bali dan Jawa, bahkan bahasa Sunda. Ada yang persis sama, ada juga yang berubah maknanya. Pelafalan juga sedikit banyak berbeda menyesuaikan “lidah” masing-masing.

Kata “batur”, misalnya. Dalam bahasa Sunda, “batur” berarti orang lain. Kata ini cenderung memiliki nuansa negatif untuk menegasikan seseorang atau membuat jarak dengan orang lain di luar diri sendiri atau lingkaran kita. Lain halnya dalam bahasa Sasak, “batur” justru bernuansa sangat positif yang berarti teman. Jika dalam bahasa Sunda seolah menegasikan, “batur” dalam bahasa Sasak justru saya melihat bentuk penghargaan dalam “mengakui” orang lain.

Perbedaan makna ini menjadi penanda betapa pentingnya mempelajari bahasa daerah agar tidak timbul kesalahpahaman di antara para pengguna bahasa. Meskipun Indonesia memiliki bahasa nasional yang sejatinya berfungsi memudahkan komunikasi antarsuku bangsa yang sangat banyak ini, tetap saja sebaiknya mengenali bahasa daerah terutama jika kita tinggal di daerah tersebut. Bagaimanapun, “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” kan?

Lagipula, belajar bahasa daerah itu sangat menarik koq. Kita bisa menelaah banyak hal di balik suatu bahasa, mulai dari kearifan lokal, sejarah, hingga cara pandang suatu masyarakat. Tentunya keberagaman bahasa juga mengajarkan kita soal bagaimana menghargai perbedaan.

Tetap menggunakan bahasa daerah, sangat berperan dalam pemeliharaan kekayaan budaya bangsa. Tentunya kekayaan budaya daerah ini harus menjadi kekuatan yang menyatukan nusantara secara keseluruhan, bukan malah memecah belah karena ego kesukuan. Semoga kita tetap Bhinneka Tunggal Ika. 🙂

*Sumber foto: kayuagungradio.com

Advertisements

7 thoughts on “Belajar Bahasa Daerah, Belajar Menghargai Perbedaan

  1. Selain Bahasa Indonesia, saya juga bisa Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, dan sedikit Bahasa Thailand. Tapi yg bikin saya malu adalah…saya orang Sunda, tapi Bahasa Sunda saya jelek. Denger mah ngerti, tapi cuma bisa ngomong sedikit, itu pun kacau balau. Saya salut sama Mama saya yg meskipun bukan seorang yg terpelajar, tapi dia bisa ngomong Bahasa Sunda lemes dengan lancar. Sayangnya ya itu, di sekolah kita terlalu difokuskan belajar ilmu-ilmu eksakta, sementara pendidikan bahasa diabaikan.

    Saya ingin belajar Bahasa Sunda lemes, tapi ga tau di mana belajarnya T.T

  2. Jujur, saya dulu tidak begitu peduli dengan bahasa daerah saya, sunda, walau saya besar disini. Namun setelah menikah dgn suami yg berasal dari jawa, saya jadi menyesal kenapa dulu tidak mempelajari bahasa sunda dgn orgtua saya hehe, karena yg saya lihat orang jawa itu cenderung “bangga” dgn bahasa daerahnya. Mereka senang berbicara bahasa jawa dgn orangtua dan teman-temannya. sekarang saya mengerti, mempelajari bahasa daerah itu ternyata penting untuk menunjukkan identitas kita. 🙂

    salam kenal ya mbak. 🙂

  3. Masa kecil pergaulan dengan bahasa betawi depok
    18 tahun smp skrg dominan pakai bahasa sunda tp salahnya ketemu pertama dengan bahasa sunda kasar jadi suka malu kalau pakai bales sunda halus
    Jadi termotivasi belajar bahasa daerah yang lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s