Antre dong! – Mesin Tiket yang Butuh Petugas

Setelah antre BPJS, lagi-lagi saya harus mengantre.  Kali ini saya harus antre untuk membeli tiket Commuter Line atau KRL. KRL memang moda transportasi yang sangat murah sehingga menjadi pilihan ribuan orang dari Jakarta ke beberapa kota sekitarnya, termasuk Bogor, atau sebaliknya. Ribuan orang menggunakan KRL sehingga loket, terutama di stasiun-stasiun besar, tidak pernah kosong. Pada jam-jam tertentu, antrean semakin menggila. 

Untungnya saya pernah diberi kartu multitrip oleh kawan saya, Gino, sehingga tidak perlu mengantre setiap kali mau naik kereta. Saya cukup mengisi top-up yang bisa dipakai puluhan kali perjalanan. Tentu saja saya selalu mengisi di stasiun kecil yang antreannya tidak terlalu panjang. Saya pernah terpaksa membeli kartu multitrip baru yang bisa langsung digunakan demi tidak mengantre karena lupa membawa kartu yang biasanya. Meskipun dengan berat hati, lebih baik mengeluarkan uang lebih banyak daripada harus antre kemudian sakit pinggang kambuh.

Minggu lalu, saya harus ke Jakarta dan ternyata saldo kartu multitrip saya habis. Terpaksa saya harus mengantre untuk isi ulang (yamasa harus beli kartu multitrip lagi?). Ya Tuhaaaan, panjang beneeeer. Ingin protes tapi harus protes ke siapa, rumput yang bergoyang? Belum lagi harus ribut karena ada saja orang yang gak punya otak menyerobot antrean minta didahulukan.

Antrean di mesin tiket Stasiun Jakarta Kota

Saya jadi bertanya-tanya, apakah tidak ada sistem yang lebih praktis lagi sehingga orang tidak perlu sakit jiwa mengantre? Penggunaan mesin loket yang dimaksudkan untuk otomatisasi juga malah membuat antrean semakin menggila karena tidak semua orang bisa mempelajarinya dengan mudah. Bukan bermaksud merendahkan, tapi saya kasihan melihat para orang tua atau orang yang tidak terbiasa dengan mesin kebingungan untuk membeli tiket. Akhirnya mereka dicemooh oleh orang lain karena terlalu lama berdiri di depan mesin. Kalau tidak, satpam dan petugas stasiun akan kelelahan harus membantu semua orang. Buat apa ada mesin kalau tetap butuh petugas kan?

Tapi saya berharap semoga ini hanya proses yang harus ditempuh untuk dinikmati hasilnya 5-10 tahun mendatang. Lebih cepat lebih baik, tentunya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s