Belajar dan Bersyukur Mengenal Kelompok Perempuan Cirompang


Minggu ini tema #1minggu1cerita adalah “Serunya Kegiatan Komunitasku”. Tema yang menarik mengingat sebagian besar member dalam support group menulis itu memiliki atau mengikuti berbagai komunitas yang beragam, yang tentu saja semuanya positif. Saya membayangkan alangkah hebatnya kalau semua bercerita tentang komunitas masing-masing. Setidaknya grup yang hobi gosipin artis ini bisa memperlihatkan pada dunia kalau masih banyak hal positif yang bisa dilakukan dan dibagikan, daripada menyebarkan provokasi di media sosial.

Sebetulnya kemarin saya ingin menulis tentang beberapa komunitas di Bogor sebagai lanjutan tulisan sebelumnya: Begini Caraku Mencintai Bogor (bagian 1). Saya ingin menulis tentang Berkawan Indonesia, tentang Malam Puisi Bogor, Kelas Bogor, Langit Imajinasi. Saya juga ingin menulis tentang Bogor Ngariung yang mewadahi lebih dari 80 komunitas yang ada di Bogor. Tapi bangun tidur pagi ini saya merindukan ibu-ibu di Kasepuhan Cirompang, salah satu dari 522 kasepuhan yang ada di Banten.

Selama sekitar satu tahun saya berkegiatan bersama para perempuan di Cirompang dalam isu pengelolaan sumber daya alam. Para perempuan yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga ini sejak awal tahun 2015 mulai mengorganisir diri dan terlibat aktif dalam kemajuan desanya. Sebelumnya, para perempuan ini tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, termasuk soal pengelolaan sumber daya alam.

Selama satu tahun saya menemani para perempuan yang tergabung dalam Kelompok Perempuan Cirompang, yang di dalamnya dibagi lagi menjadi 5 kelompok kecil. Saya sering ikut mereka ke kebun yang mereka kelola bersama. Kebun ini merupakan upaya para perempuan untuk menjadikan masyarakat di sana berdaulat pangan. Sebelumnya, kebutuhan sayur di Cirompang justru didatangkan dari pasar yang jauh. Mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan sayur dari tanah sendiri, padahal tanah mereka subur.

fb_img_1479023563786
Panen sayuran di kebun kelompok perempuan Cirompang.

Saya sangat senang bergaul dengan ibu-ibu muda di Cirompang ini, selain tentu juga para sesepuh di sana. Kebersamaan kami selalu penuh tawa dan cerita-cerita menyenangkan. Selain itu juga penuh pembelajaran dan diskusi. Sebagian besar perempuan di Cirompang masih sangat lugu. Meski demikian, semangat mereka untuk belajar banyak hal cukup besar. Kami belajar bercocok tanam, menulis, sampai belajar bercerita dan mengeluarkan pendapat. Ya, selama ini para perempuan di Cirompang tidak pernah dilibatkan dalam diskusi, apalagi penentuan kebijakan. Sekarang tidak lagi, mereka bisa setidaknya mengungkapkan pendapat. Teh Titin, salah seorang perempuan Cirompang, bahkan berkali-kali bisa bercerita di forum nasional. Minggu lalu ia mendapat penghargaan dari Kemenko PMK sebagai Duta Inklusi. Saya senang dan bangga mendengarnya.

Belajar bercerita melalui tulisan trntang kondisi di desanya.

Tentu saja saya pun banyak belajar dari para perempuan di sana. Saya termotivasi dengan semangat mereka yang mau berbuat sesuatu untuk maju. Beberapa orang menjadi guru di TK, SD, maupun diniyah. Meskipun hidup mereka sederhana, mereka ingin anak-anak di sana menjadi cerdas. Hal lain yang membuat saya senang, ibu-ibu ini suka sekali ngopi. Kami ngopi di setiap kesempatan, satu hari bisa 3-5 kali. Pernah suatu hari maag saya kambuh akibat minum kopi berlebihan. Hahaha.

Pengalaman bersama mereka adalah salah satu hal yang saya syukuri. Saya selalu diterima dengan baik bahkan merasa diterima menjadi bagian dari keluarga Cirompang. Setiap sudut menyapa dengan ramah, anak-anak pun menyambut dengan antusias setiap kali saya datang. Saya merasa sudah sangat dekat dengan mereka.

Anak-anak Kasepuhan Cirompang
Anak-anak Kasepuhan Cirompang

Pertengahan tahun 2016 ini, saya mendapat tugas ke Lombok Timur untuk waktu yang cukup lama. Tentu saja saya harus berpamitan pada masyarakat Cirompang. Tak pernah saya duga, acara berpamitan ini menjadi momen yang sangat mengharukan. Beberapa orang enggan melepas saya “meninggalkan” desa mereka, beberapa memeluk saya dengan erat, bahkan ada pula yang menangis. Saya betul-betul terharu. Air mata saya menetes juga karena tak pernah saya sangka kehadiran saya juga berarti bagi mereka, meskipun saya tak banyak membantu mereka. 

Hari perpisahan yang akan selalu saya ingat. :)
Hari perpisahan yang akan selalu saya ingat. 🙂

Tidak ada sesuatu yang terjadi dalam hidup kita yang sia-sia. Semua ada hikmahnya asal kita bersyukur. Saya bersyukur punya banyak keluarga baru di Cirompang. Semoga saya juga punya banyak keluarga baru di Lombok Timur ini.

Semoga keluarga aku dan keluarga kamu juga jadi keluarga. Eh gimana? :)))))

Advertisements

10 thoughts on “Belajar dan Bersyukur Mengenal Kelompok Perempuan Cirompang

  1. Kayanya seru ya, belajar bercocok tanam. Jadi kepengen tinggal di desa, berinteraksi dengan wajah-wajah sederhana yg masih polos dan tulus… Btw Cirompang tuh di daerah mana, ya?

    Makasih udah share pengalamannya, Mbak Indri…

    Salam kenal

  2. Di Lombok juga sekarang buat komunitas, Teh…
    Komunitas pencinta seblak
    Komunitas tukang makan seblak
    Komunitas pembuat seblak
    dan Komunitas penjual seblak

    jadi ada dari berbagai sektor, kuliner, buruh, UKM dan tukang narsis, hihihi…

    nanti, anggota komunitasnya ajak masuk group #iminggi1cerita biar semua jadi donlen Teh Guli
    hihi…

  3. Wah Cirompang di Banten ya teh. Itu ngopi sampe bbrp kali gitu..
    Daerah Lebak katanya dingin ya, aku di Tangerang cuma blm pernah kesana…
    1m1c..akhirnya ya Mario Teduh,eh Teguh 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s