Aku Rindu Bogor Biru

“We never know what ‘comeback’ is, if we haven’t been anywhere.” ~ Life Traveler

Tentang Pulang

Saya lahir dan besar di Bogor. Hampir semua keluarga besar dari ayah maupun ibu saya juga di Bogor. Saya tidak tahu rasanya mudik seperti kebanyakan orang saat hari raya. Selama belasan tahun, paling jauh saya hanya mengunjungi sanak saudara di Cianjur. Tidak ada perjalanan lain selain menggunakan berbagai rute angkot di Bogor.

Saya hampir tidak pernah ke luar Bogor, kecuali ke Jakarta atau Bandung. Itu pun satu atau dua kali dalam belasan tahun. Saking melekatnya Bogor dalam hidup saya, Bogor menjadi biasa saja di mata saya. Sama sekali tidak istimewa. Membosankan. Saya pernah berpikir “apa asiknya tinggal di Bogor?”.

Ternyata kutipan pembuka tulisan ini memang benar. Kita tidak akan memaknai “pulang” jika kita tidak pernah pergi ke manapun. Perjalanan itu, kawan, membuat kita rindu untuk pulang. Betapa banyak hal yang tadinya kita anggap biasa, menjadi luar biasa ketika kita tidak selalu bisa melihat atau merasakannya. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Saya harus pergi jauh. Itu yang saya pikirkan ketika lulus SMA. Saya merasa tidak bisa berkembang jika tetap berada di Bogor. Lalu saya putuskan untuk hijrah ke Bandung. Tidak cukup jauh, memang. Tapi cukup untuk langkah awal bagi saya “mengenal dunia”. Saya belajar bagaimana menjalani kehidupan dengan bekal nol besar. Tanpa uang, tanpa pertemanan. Saya harus memupuk modal itu dari awal. Saat itu lah saya mulai mengenal rasa rindu pada Bogor.

Dua kali tinggal di Bandung, lalu sekarang mendapat tugas di Lombok Timur. Saya semakin menghargai waktu yang dimiliki untuk menikmati kebersamaan dengan kota kelahiran dan segala isinya. Saya juga jadi tahu apa yang ingin saya lakukan di Bogor sebagai bentuk kecintaan saya terhadap kota ini. Meskipun kemacetan semakin menggila, saya tetap merindukan pulang. Bukan hanya rumah, tapi juga berbagai macam hal yang ada di kota hujan ini. 

Bogor dan Segala Macam Isinya

Salah satu yang dirindukan dari Bogor adalah makanannya. Bogor banyak sekali kuliner yang menggoda lidah maupun perut. Berbagai macam makanan ada di sini: ringan, berat, tradisional, western, Jepang, Korea, murah, mahal, sampai yang ajaib-ajaib pun ada. Berhubung di Lombok Timur saya tinggal di desa, variasi makanan yang tersedia cukup terbatas.

Tempat wisata pun semua ada di Bogor, tentu saja kecuali pantai. Terletak di antara dua pegunungan: Halimun-Salak dan Gede-Pangrango, menjadikan kondisi alam di Bogor sangat indah. Meskipun pembangunan hotel dan vila yang semakin menjamur sungguh menyebalkan, tapi wisata alam di Bogor tak akan ada habisnya untuk dijelajahi. Banyak sekali curug (air terjun) di Bogor. Belum lagi danau, hutan, dan keindahan lain yang sayang untuk diabaikan.

Tentu saja hal yang selalu saya rindukan adalah teman-teman saya: harta yang sudah dikumpulkan dan dirawat selama puluhan tahun. Tak terhitung betapa banyak teman yang saya miliki di seantero Kota dan Kabupaten Bogor, yang harus saya akui tidak semua bisa bertemu setiap saat. Apalagi beberapa bulan terakhir ini, satu minggu setiap bulan tak cukup untuk bertemu semua kawan. Belum lagi saya ingin menikmati bermain di rumah bersama keponakan yang sedang lucu-lucunya.

Hujan yang Dirindukan

Bukan tanpa alasan Bogor dijuluki sebagai Kota Hujan. Meskipun musim panas, kita akan tetap bisa bertemu hujan di kota ini. Sayangnya, beberapa tahun belakangan, intensitas hujan tidak lagi seperti dulu saat saya masih sekolah. Ya, hujan selalu berhasil mengajak saya mengenang berbagai kenangan yang menyenangkan: bermain hujan saat anak-anak, sampai kenangan menikmati kopi hangat denganmu. Uhuk.

Terlalu melankolis, kata teman saya waktu kami sedang berada jauh di seberang pulau. Saat itu saya bilang kalau ingin bertemu hujan karena terlalu sepi tanpa hujan. Baper. Padahal kami hanya pergi dua minggu saat itu. Hahaha. Ya gimana dong? Namanya juga rindu, dia tidak ditentukan oleh waktu, kan?

Itulah berbagai alasan mengapa Bogor sebagai kampung halaman saya, terlalu istimewa untuk dianggap biasa saja. Apapun alasannya, jika ada kesempatan pulang, saya tidak akan melewatkannya. 

Advertisements

4 thoughts on “Aku Rindu Bogor Biru

  1. senang bisa melihat bogor dari kacamata guli. saya baru tiga kali mengunjungi bogor, tapi rasanya begitu lekat dihati. sampe sempat bercanda dengan suami, suatu saat pengen jualan sate ikan tanjung di salah satu ruas jalan di bogor, hehehe.

  2. Jadi akhirnya bisa merasa Bogor seperti yg dirasa org lain ya^^
    Suka kalimat ini teh

    Betapa banyak hal yang tadinya kita anggap biasa, menjadi luar biasa ketika kita tidak selalu bisa melihat atau merasakannya.

  3. Yang jelas hujan suka bikin mellow… Berarti kalau ke bogor, aku bakal mellow terus.. Dan terakhir ke bogor nangis terus pas hujan. Bukan karena hujan sepertinya, tapi karena perubahan hormon yg mempengaruhu bumil..

    *comment g penting…. Maafkan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s