#1Bulan1Museum: Silang Sengkarut Tekstil Indonesia

Beberapa bulan terakhir, saya semakin tertarik pada kain, khususnya tenun. Sejak pekerjaan saya bersentuhan dengan para penenun (sebelumnya penenun Baduy, sekarang penenun Lombok Timur), selembar kain yang sebelumnya hanya saya respon dengan “ih bagus ya”, kini lebih mengusik ketenangan dan sedikit membuat dahi berkerut. Pasalnya, banyak hal (kalau tidak disebut persoalan) tersimpan di balik kain yang “mahal” itu.

Ya, mahal. Itu hal pertama yang diungkapkan pembeli ketika bertanya harga tenun. Kemudian mereka akan menawar harga serendah mungkin karena membandingkan dengan harga kain meteran di Tanah Abang. H-e-l-o-o-o-w.

Benang dengan pewarna alam.


Mengapa Tenun Mahal?
Kain tenun diproduksi secara tradisional dengan menggunakan alat sederhana dari kayu. Di Lombok Timur, alat ini disebut gedogan. Proses menenun atau nyesek ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Selembar kain sepanjang 5 meter dengan lebar 1 meter membutuhkan waktu 2-4 minggu. Terlebih, tenun dengan pewarna alami. Proses pewarnaan benangnya saja butuh waktu 2-3 minggu. Belum lagi harus mencari bahan-bahan pewarnanya di hutan.

Secara umum, menenun dilakukan oleh perempuan. Di beberapa daerah di Indonesia, menenun menjadi syarat seorang perempuan untuk bisa menikah, bahwa perempuan belum menjadi perempuan jika belum bisa menenun. Di Lombok Timur sendiri tidak ada stigma seperti itu meskipun hampir semua penenun adalah perempuan. Berdasarkan sejarah suku Sasak, awalnya budaya menenun justru dibawa oleh laki-laki yang saat itu menyebarkan agama islam ke Pulau Lombok. 

Selain waktu, tentu saja ada pengetahuan dan keahlian yang tersimpan dalam kain tenun. Tidak banyak yang memiliki pengetahuan dan keahlian tersebut, serta tidak banyak yang masih mau memeliharanya. Kenyataan itu seharusnya menjadikan tenun sangat mahal. 

Salah seorang penenun Desa Pringgasela Selatan, Lombok Timur.

Menghitung harga kain tenun tidak bisa hanya menghitung cost production, tapi juga ada value yang tak ternilai harganya yang harus ikut dihitung dalam menentukan harga jual tenun. Tenun (begitu juga batik –yang tradisiobal) bukan sekadar selembar kain bermotif bagus yang bisa digunakan menjadi baju atau hiasan dinding. Lebih dari itu, mereka adalah artefak yang mengabadikan kekayaan budaya masyarakat Indonesia. 

Jadi jangan membandingkan kain yang dibuat dengan sepenuh hati dengan kain yang diproduksi oleh otomatisasi mesin. 

Mengenal Tekstil Tradisional di Museum

Ketertarikan dan perhatian saya pada kain tenun itulah yang menjadi pertimbangan untuk mengunjungi Museum Tekstil sebagai museum pertama dalam memenuhi tantangan #1Bulan1Museum yang saya buat di awal tahun 2017 ini. Museum yang diresmikan tahun 1976 ini berlokasi di daerah Tanah Abang, Jakarta. Tiket masuknya hanya Rp 5.000 per orang.

Pada pertengahan era 1970-an, penggunaan tekstil, pemahaman penggunaannya, serta jumlah dan mutu produksi, sudah sangat jelas menurun. Beberapa jenis tekstil bahkan sudah menjadi sangat langka. Hal inilah kemudian memotivasi beberapa warga terkemuka Jakarta untuk mendirikan sebuah lembaga yang didedikasikan untuk pelestarian dan penelitian tekstil Indonesia. Himpunan Wastraprema (Masyarakat Pecinta Tekstil) menyumbangkan koleksi dasar yang terdiri dari 500 tekstil bermutu tinggi. Pemerintah Provinsi menyediakan akomodasi berupa sebuah bangunan tua yang indah di daerah Tanah Abang Jakarta. 

— museumtekstiljakarta.com

Ada dua bangunan yang berfungsi sebagai galeri di museum ini: gedung utama dan galeri batik. Gedung utama menyimpan berbagai macam tekstil Indonesia: koleksi museum, desainer, maupun masyarakat pecinta tekstil. Namun sayang, ketika saya berkunjung, gedung utama tidak dibuka karena entah sedang perawatan atau perbaikan. Saya duga, saat itu bertepatan dengan rotasi isi gedung utama. Karena saya membaca di situs museum, mereka memang melakukan rotasi koleksi gedung utama secara berkala.

Gedung Utama Museum Tekstil.

Meskipun gedung utama tutup, saya tetap menikmati dan puas mengunjungi museum ini. Pertama, saya dan kawan saya (Teh Mia) memasuki galeri batik. Di sana dipamerkan banyak sekali kain batik berbagai motif yang semuanya cantik. Saya tidak henti-hentinya mengagumi kecantikan kain-kain itu. Beberapa menggunakan pewarna alami, sisanya pewarna kimia. Di sana juga diperlihatkan contoh kain yang sesuai dengan tahapannya. 

Kain batik berdasarkan tahapannya.

Tak puas di situ saja, kami mengunjungi Pendopo Batik di bagian belakang museum. Tempat ini digunakan sebagai tempat workshop membatik. Meskipun kami tidak mencobanya, kami cukup banyak mengobrol dengan para pengelola workshop. Saat itu juga ada orang Jepang yang sedang membatik. Menurut pengelola, biasanya orang asing belajar membatik rutin dan hasilnya dikirim ke negara mereka sebagai cenderamata.

Membatik di Pendopo Batik Museum Tekstil.

Selain membatik, ternyata di sana juga bisa belajar tentang pewarnaan alami. Mereka menyediakan paket khusus secara berseri untuk belajar tentang pewarna alam secara teori dan praktik. Tapi harus membuat janji dulu sebelumnya, karena mereka harus mendatangkan bahan-bahannya dari Yogyakarta.

Usai berbincang dengan pengelola Pendopo Batik, kami berkeliling area museum dan menemukan Ruang Pengenalan Wastra. Ruangan ini hanya ada sebuah pintu tertutup, sehingga awalnya kami mengira ruangan ini bukan untuk umum. Kami bertanya pada petugas dan ternyata boleh masuk.

Mejeng di Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Ruang Pengenalan Wastra ternyata menyimpan berbagai alat tenun dari beberapa daerah di Indonesia, mulai dari alat tenun sederhana hingga alat tenun bukan mesin (ATBM) yang ukurannya besar. Di ruangan itu juga diperlihatkan berbagai jenis benang, mulai yang terbuat dari kapas, sutra, hingga kulit kayu. Ada juga alat pemintal benang yang berukuran besar. Menarik.

Beralih ke luar ruangan, kami duduk di sebuah taman kecil. Saat tersadar, ternyata ini adalah Taman Pewarna Alami. Tidak banyak pohon di taman itu, tapi hampir semuanya adalah tanaman pewarna alami. Ada pohon Ulin yang bisa dimanfaatkan kayu dan daunnya untuk warna krem dan abu-abu, pohon Jati yang daun mudanya bisa menjadi pewarna merah kecoklatan, Ketapang Kebo yang bunganya bisa untuk warna hijau kekuningan. Ada juga tanaman pewarna yang selama ini jarang saya lihat di Lombok Timur, yaitu warna ungu. Ternyata warna ungu bisa dihasilkan dari daun tanaman Puring. Ada juga warna oranye yang bisa didapat dari biji tanaman Kesumba.

Taman Pewarna Alam Museum Tekstil

Sungguh saya selalu suka mengunjungi museum. Selalu ada “oh moment” di setiap kunjungan yang berbeda. Dan itu menyenangkan. Mengunjungi museum membuka cakrawala kita terhadap hal-hal dan pengetahuan baru yang mungkin belum cukup terpenuhi dari hanya membaca. Ini bagian yang melengkapinya. Itulah mengapa saya membuat tantangan #1Bulan1Museum agar saya selalu tertantang untuk mempelajari hal baru. Kamu juga ikutan, yuk? 😉

Advertisements

5 thoughts on “#1Bulan1Museum: Silang Sengkarut Tekstil Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s