Memaafkan “Kegilaan” Massal

Ada tiga hal yang membuat saya ingin Februari ini segera berlalu. Pertama, tidak ingin terlalu berlama-lama baper merenungi bahwa usia saya bertambah. Kedua, tidak sabar menunggu rencana traveling di awal Maret. Ketiga, segeralah berlalu wahai pilgub DKI. Saya tidak akan membahas poin pertama dan kedua dalam tulisan ini. Saya hanya mau membahas poin terakhir.

Iya, yang terakhir itu benar-benar menyebalkan. Kenapa? Karena sebagai warga negara Indonesia bagian Bogor, saya sama sekali tidak ada hubungannya dengan pemilihan gubernur ibukota negara kita itu, setidaknya dalam hal hak memilih. Tapi “keramaian” menjelang pilgub ini sungguh menguras energi saya, dan mungkin jutaan masyarakat Indonesia lainnya yang jadi ikut-ikutan repot dibuatnya.

Logika yang Menguap

Kalau saya bilang “ngapain sih sibuk ngomentarin pilgub Jakarta, milih juga nggak“, tentu tidak tepat juga. Semua orang memiliki hak yang sama untuk berpendapat, serta tentu saja dengan maksud demi kebaikan orang banyak. Bagaimanapun juga, pemerintahan ibukota sedikit banyak akan memengaruhi pemerintahan nasional, maybe. Semua orang tentu tidak ingin membiarkan penguasa yang “dzalim” berkuasa di manapun juga. Tapi yang jadi pertanyaan, dzalim dalam hal apa? Menurut versi siapa? Pada akhirnya semua akan tampak buruk dan jahat di mata sebagian yang lain. Percayalah, tak ada manusia, begitu pun pemimpin yang sempurna di mata semua manusia.

Nah, perbedaan ambisi pandangan dan kebutuhan inilah yang akhirnya membuat proses pemilihan ini jadi “meriah”. Sayangnya, kemeriahan ini bukan lagi soal adu gagasan, melainkan menjadi ajang “berperang” berbagai macam isu. Saya melihat sebagian besar, jika tidak dikatakan semua, tidak lagi mempersoalkan hal-hal mendasar yang sifatnya substansial dalam memperbaiki Jakarta. Tidak dikaji dari berbagai sisi ilmu pengetahuan, fakta, logika, dan positivisme. Mungkin ada, namun akhirnya tenggelam oleh perbincangan-perbincangan dan berita negatif, provokatif, dan jauh dari kebenaran.

Gara-gara pilgub DKI ini, menurut saya, akal sehat kita dijungkirbalikan. Benar-salah sudah bukan jadi ukuran lagi; yang penting menang. Dan pola pikir demikian pula yang mendasari berbagai perdebatan di media sosial yang jauh jauh jauuuh sekali dari akar permasalahan. Dan siapa yang melakukan itu? Kita yang jauh jauh jauuh sekali dengan hak suara untuk memilih. Secara de jure, kita tidak akan berkontribusi dalam pemungutan suara. Kita juga belum tentu memengaruhi pilihan orang lain yang memiliki hak suara. Satu yang pasti, kita akan berdebat tanpa akhir. Logika kita menguap bersama api yang sengaja disulut oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu.

Memaafkan “Kegilaan” Massal

Saya ingat telah menghapus beberapa pertemanan di facebook saat pilpres terakhir. Bukan karena berbeda pendapat atau berbeda pilihan, tetapi karena saya lelah dengan berbagai isu yang diangkat serta perdebatan yang bukan untuk mencari solusi. Tapi pilgub ini saya rasa jauh lebih ajaib dan konyol. Saking ajaibnya, saya jadi tidak tahu harus marah atau tertawa miris. Banyak orang yang tampak asing bagi saya dalam berbagai isu yang “digoreng” terus selama menjelang pilgub ini; sebagian memang orang yang hanya selewat saja saya kenal, tapi sebagian yang lain adalah orang yang saya merasa cukup dekat.

Saya berpikir, sepertinya saya harus berdamai dengan keadaan ini, setidaknya sampai pilgub ini berlalu. Sepertinya itu cara terbaik agar akal sehat saya tetap berfungsi dengan baik. Saya harus memaafkan dan memaklumi “kegilaan” semua orang dalam momen ini meskipun semakin ndablek tidak masuk akal. Toh selama mereka tidak mengusik atau mengganggu kehidupan saya, kami bisa tetap berteman seperti biasa, kan? Lebih baik saya berdoa semoga bangsa ini semakin baik dan kita semua, seperti kata Pram, bisa adil sejak dalam pikiran.

Every time you feel yourself getting pulled into other people’s nonsense, repeat these words: not my circus, not my monkeys.

-Polish Proverb.

Saya sih mau membuat ini jadi sederhana dan tidak menguras emosi. Tapi kalau kamu ndableknya keterlaluan dan menyusahkan saya, gimana dong?

Advertisements

5 thoughts on “Memaafkan “Kegilaan” Massal

  1. Setuju ! Dari pilgub yang katanya rasa pilpres ini bahkan antar teman deket bisa saling unfol atau unfriend gara2 beda pendapat. Rasanya sayang banget gitu, dr ribut d sosmed jd memutus silaturahmi juga

    Nice posting 😊 salam kenal

  2. FEEEEL YOUUUUU :))) Banyak banget yg saling unfollow (thankfully gw ga exposed, mungkin krn circle pergaulannya monoton atau trll ga sensitif hahaha). FIGHT INTOLERANCE!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s