Sekelumit Fotokopi di Negara Maju

Tulisan ini berawal dari perbincangan saya dengan sesama penerima manfaat BPJS. Kami mengakui bahwa pelayanan asuransi yang disediakan pemerintah itu semakin hari semakin baik. Memang belum merata di semua tempat, tapi kami termasuk orang yang yakin bahwa kelak ini akan terus membaik. Tapi meskipun mengurus administrasi BPJS di beberapa RS saat ini tergolong mudah, tetap saja akan selalu ada momen berjumpa dengan “mamang” fotokopi. Dan Itu cukup mengganggu.

Bayangkan, kita harus beberapa kali fotokopi berkas yang berbeda setiap kali ke RS. Meskipun tempat fotokopi tidak jauh dari RS, tetap saja cukup melelahkan bagi pasien karena tidak bisa sekali jalan. “Kalau sakit ya diantar dong, jadi yang urus berkas gak harus pasien.” Sayangnya, mas mbak, tidak semua pasien bisa diantar oleh keluarga atau kerabatnya untuk pergi ke RS karena berbagai alasan. Lagi pula, bukan itu poinnya. Poin penting dari hal ini adalah, setidaknya menurut kami, betapa mudahnya jika segala urusan administrasi bisa lebih sederhana tanpa harus repot fotokopi. Nah, di sinilah sebuah pertanyaan muncul:

Apakah di negara maju ada tukang fotokopi?

Beberapa kawan yang pernah atau sedang tinggal di negara maju sedikit membuka wawasan saya dan membantu menjawab rasa penasaran saya itu. Tema fotokopi ini jadi menarik bagi saya. Tulisan ini tentu hanya sedikit informasi yang mungkin tidak mewakili semua negara maju. Ini hanya beberapa contoh saja dari hasil perbincangan dengan kawan-kawan.

Mengurus berbagai urusan administrasi di negara yang “hardcopy-minded” seperti Indonesia, mesin fotokopi dan mamangnya sama pentingnya seperti nasi. Harus ada di mana-mana. Mulai dari mengurus kartu penduduk, sekolah, pekerjaan, rumah sakit, dan berbagai urusan lain tak luput dari “fotokopi berkasnya 3x ya”. Umumnya tempat fotokopi berada di dekat kampus atau sekolah, tapi tak sedikit juga yang berada di lingkungan perumahan atau pinggir jalan raya. 

Beberapa negara maju berdasarkan jawaban dari kawan-kawan saya, biasanya menyediakan mesin fotokopi di kampus-kampus. Tidak seperti di sini, mesin ini tidak ada “mamang” yang melayani alias self service dan membutuhkan kartu ID mahasiswa untuk pembayarannya. Memang ada juga yang bisa ditemukan di tempat umum, tapi tak banyak dan harganya cukup mahal. Seorang kawan yang sedang studi di New York mengeluhkan biaya fotokopi di sana yang cukup mahal untuk mahasiswa (yang terbiasa dengan fotokopi) yang butuh banyak fotokopi bahan kuliah. Saya baca di situs New York Public Library, harga fotokopi di sana adalah 20 sen per lembar atau sekitar Rp 2.600.

Osnabrück, Jerman, kurang lebih sama. Harga fotokopi di tempat fotokopi umum sekitar 0.15 euro atau Rp 2.250 per lembar hitam putih. Ada petugas yang bersedia membantu jika kita belum paham cara menggunakan mesin fotokopi atau jumlah fotokopi-an kita sedikit. Menurut kawan yang baru menyelesaikan kuliah di sana, biaya fotokopi di kampusnya sekitar 0,05 euro atau Rp 750 per lembar dan mahasiswa harus melakukan fotokopi sendiri dengan membaca petunjuk yang biasanya tertempel di dinding. Perbedaan harga yang cukup jauh. 

Di Denmark juga sama. Pemberlakuan pajak pembelian sebesar 25% untuk berbagai transaksi sudah pasti memengaruhi harga fotokopi. Menurut kawan yang sudah beberapa tahun tinggal di sana, harga fotokopi di sekolah anaknya sekitar Rp 1.000 per lembar. Dan ada firma khusus yang mengatur jumlah fotokopi terutama buku-buku untuk mencegah pembajakan.

Jepang sepertinya menyediakan banyak mesin fotokopi di toko-toko ritel. Berdasarkan informasi dari sebuah situs panduan hidup di Jepang, harga fotokopi sekitar 10 yen dalam artikel yang diperbaharui tahun 2014. Mungkin harga saat ini tidak terlalu jauh perbedaannya, sekitar Rp 1.200-1.500. Itu perkiraan saya sih. :p

Di Bogor, harga fotokopi cukup variatif antara Rp 150-250 per lembar. Sekitar 10% dari harga rata-rata fotokopi di negara maju. Tapi harga yang mahal dan langkanya tukang fotokopi di negara-negara maju memang tak jadi soal. Mereka tak banyak membutuhkan fotokopi karena hampir semua paperless. Di Swedia, misalnya. Sistem informasi kependudukan sudah terintegrasi dengan berbagai urusan lain seperti pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Sehingga hanya membutuhkan semacam NIK untuk melihat keseluruhan data dan mengurus kebutuhan administrasi apapun.

Di kita? Duh KTP eceu aja udah 6 bulan tak kunjung ada kabar akibat ada yang asik bagi-bagi “jatah”. 😦

Advertisements

2 thoughts on “Sekelumit Fotokopi di Negara Maju

    1. Saya nulis pengalaman pakai BPJS,bu, April -Mei 2016. Tentang periksa di dokter Gigi dan dokter mata
      Salah satunya ini
      imangsimple.blogspot.co.id/2016/05/bpjs-bikin-baper-part-one.html?m=0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s