Remeh-temeh yang Dirindukan

Photo from flickr

Gara-gara beberapa hari yang lalu ngobrolin Multiply, saya jadi iseng membuka lagi arsip postingan saya beberapa tahun lalu di sosial media yang kini sudah punah itu. Untungnya, saya pernah mengunduh arsip dan menyimpannya di media yang lain. Berguna juga kalau sedang ingin nostalgia seperti saat ini. Meskipun, kalau baca rasanya “ya ampun gue alay bangeeet yaaaa.” 😀

Multiply adalah sosial media yang awalnya berbasis blog, sebelum akhirnya menambahkan fitur microblog atau yang biasa kita kenal dengan update status di sosial media seperti Facebook. Friendster pun awalnya tidak memiliki fitur tersebut, ia hanya media untuk menambah teman. Kita hanya bisa menyapa kawan kita di profil miliknya. Beberapa tahun kemudian, Friendster mulai mengembangkan fitur-fitur lain yang hampir serupa dengan facebook, termasuk penambahan microblog.

Nah, microblog ini salah satu yang menggerus populasi blogger. Perlahan tapi pasti, para blogger mulai malas mengisi blognya dan lebih memilih update status saja karena lebih singkat dan mudah. Memang, microblog ini di satu sisi memudahkan kita yang ingin mengabarkan sesuatu tanpa harus ber-panjang-panjang menuliskannya seperti di blog (padahal tidak ada yang melarang juga menulis hanya satu kalimat di blog :p).

Tapi di sisi lain, microblog ini melenakan kemampuan menulis dan berpikir kita. Jika dalam blog kita memilah informasi yang ingin kita sampaikan, karena harus ditulis dengan terstruktur dan rapi, microblog ini menjadikan kita serampangan dalam menyebarkan sesuatu. Seringkali bahkan tanpa pertimbangan yang bijak. Inilah awal mula segala macam penyakit media sosial ini muncul.

 

Oh simple thing, where have you gone?

Menulis, adalah selalu tentang proses melatih kesabaran. Menciptakan sebuah tulisan yang layak dikonsumsi orang lain, perlu melibatkan diri secara total di dalam prosesnya. Ada dua hal yang memengaruhi tulisan kita: pengalaman dan pengetahuan. Jika tema yang dituliskan tidak kita alami sendiri, setidaknya kita pasti membaca atau mencari referensi untuk menuliskannya.

Namun kemampuan teknologi dalam menggulirkan informasi dengan super cepat saat ini, sepertinya menjadikan kita merasa harus bisa serba cepat juga. Kita merasa harus selalu menjadi orang yang paling cepat, paling “up-to-date”. Semua hal inginnya segera ditanggapi, segera direspon, demi mencerminkan diri sebagai manusia paling paham isu-isu terkini, mulai dari politik hingga gosip lambe-lambe-an. Soal benar atau salah, itu lain hal. Alhasil, bisnis berita hoax semakin merajalela di jagad maya ini.

Kecerobohan memilah informasi dan kemalasan yang berlipat dalam menggali informasi, menjadikan kita tak ubahnya tong kosong yang ditabuh terus-menerus. Berisik. Microblog menjadikan arus “celotehan” di dunia maya semakin deras dan tidak terkendali. Sayangnya, hanya sebagian saja yang merupakan santapan bergizi bagi akal pikiran kita. Sebagian lainnya hanya membuat sakit perut dan julid berkepanjangan.

Membaca kembali tulisan-tulisan dari Multiply mengingatkan saya bahwa sepertinya saya melewatkan banyak hal. Saya menemukan banyak tulisan di sana yang idenya sebetulnya sederhana, tapi kemudian dituliskan menjadi sebuah cerita. Meskipun ada juga beberapa tulisan di antaranya yang lumayan serius seperti tentang pilpres, budaya sunda, air, kampanye lingkungan, dll.

Saya merasa sepertinya beberapa tahun yang lalu cukup kreatif dan peka terhadap hal-hal sederhana di sekeliling saya. Misalnya saja, saya menuliskan tentang ujian kuliah, wartel dan telepon umum (iya, hidup di jaman itu :p), sampai tentang seorang kawan yang selalu berkata “hebat” untuk mengekspresikan apapun. Semua hal itu dirangkai menjadi satu tulisan yang setidaknya utuh. Frekuensi menulis-membagikannya terjadi dalam hitungan hari. Saya ingat saat itu seringkali saya tidak jadi membagikan apapun karena tiba-tiba kehilangan ide atau mood saat hendak menuliskannya.

Awal mulai mengenal microblog, saya ingat menjadi sangat gagap untuk menuliskan sesuatu di dalam kolom kecil itu. Apa yang harus saya tulis? Kalau menulis ini menarik gak ya? Dan akhirnya yang muncul kemudian hanya hal-hal remeh sehari-hari, seperti mengeluhkan cuaca sampai pemberitahuan kalau belum makan. Dulu, fitur microblog itu sesuatu yang menyenangkan untuk saling mengomentari hal-hal kurang penting dan lucu.

Tapi dunia berubah. Kebiasaan orang dalam menggunakan sosial media pun berubah. Sosial media kini tidak lagi dijadikan sebagai hiburan dan menjalin silaturahmi seperti beberapa tahun silam. Akhir-akhir ini, setidaknya bagi saya, sosial media terlalu menyumbangkan banyak energi negatif dalam diri saya. Segala macam yang beredar di dalamnya, seringkali membuat saya lelah, marah, kecewa, dll. Area bermain ini semakin dikuasai arogansi dan keegoisan manusia, belum lagi pengetahuan dan pemikiran yang dangkal turut memperkeruh suasana.

 

Sampai jumpa!

Jadilah saya hari ini akan menutup akun facebook saya, setelah kemarin menutup akun twitter terlebih dahulu. Saya niatkan untuk menutup selamanya kedua akun ini, bukan sekadar deactivate yang bisa dibuka kembali. Saya bertekad untuk menutup mata dan telinga dari kekejaman dunia maya yang semakin tanpa batas. Meskipun saya akui pernah mendapat begitu banyak manfaat dari kedua sosial media tersebut. Tak jarang saya mendapat job karena beredar di situs jejaring itu.

Tapi saya sudah tidak berminat lagi “mengurus” akun-akun itu saat ini. Terlalu banyak hal yang membuat lelah. Meskipun beberapa orang mengatakan saya lebay dan memberi solusi untuk menggunakan fitur unfollow , saya tetap tidak berubah pikiran. Bagi saya, persoalannya bukan sekadar kita bisa memilih mengikuti siapa. Tapi ini kondisi yang kita diamkan untuk terjadi semakin parah.

Harus ada upaya mencerdaskan masyarakat dalam literasi media ini, seperti yang dilakukan oleh (yang saya tahu) Internet Sehat. Perlu lebih banyak orang yang melakukannya agar masyarakat Indonesia semakin bijak dalam memanfaatkan teknologi informasi.Saya memulainya dari diri sendiri. Meskipun beberapa kawan bilang kalau menutup akun bukan solusi, tak apalah.

Pertama, saya mengurangi kemungkinan diri saya terjerembap dalam kedangkalan pikiran karena berita-berita bohong dan mengurangi potensi julid sama kehidupan orang lain. Saya merindukan kesederhanaan-kesederhanaan dalam hidup. Tidak dirumitkan dengan hal-hal yang tidak perlu. Saya rindu menuliskan ide-ide remeh-temeh dari pengamatan sehari-hari dalam kehidupan.

Kedua, biarlah saya menjaga silaturahmi dengan semua orang lewat media konvensional atau lewat perjumpaan-perjumpaan. Sesekali mungkin dengan secangkir kopi. Lebih asik, kan? 🙂

 

NB:
Saya masih punya akun instagram dan blog ini. Kalem. 😀

 

Advertisements

6 thoughts on “Remeh-temeh yang Dirindukan

  1. Ish kaka, kalo aku nutup twitter sedangkan dia berjasa mempertemukan aku dan akang…
    Aku biarkan saja twitter tanpa harus membaca atau berkicau apa2.
    Kalau fb mah ga suka aku ga akan buka fb. Kalo lambe2an sudah peraturan dr akang ga boleh follow atau ngikutin lagi (gosip) sbg istri sih manut
    kecuali di tipi kalo ga sengaja kepencet remote hahaha..
    Nah kan aku jd curcol 😂😂😂

  2. Ingin rasanya (berani) nutup akun Facebook. Apa daya, tulisanku di share ke situ semua 😭.
    Maklum, sebagai blogger pemula, belum punya “jamaah oh jamaah”.

  3. Berpikir sederhana enaknya luar biasa. Hidup rukun dan damai dengan media apa adanya. Pikiran waras memang layak dijaga dengan menulis. Aku oke saja dengan semua media sosial dan masih beranggapan waras. Aku pilih yang mewaraskan. Simple is a thing. Thinking is nothing so simple.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s