Cinta yang Begini

Sesungguhnya aku telah kalah. Aku menjadi satu-satunya yang berada dalam arena ini, menciptakan pertarungan-pertarungan dengan udara kosong. Kau sudah lama pergi. Aku menciptakan bayang-bayangmu dalam kepalaku. Kubayangkan kau masih ada di sini, duduk di meja kerja sambil sesekali mengambil jus jambu dari lemari es. Kubayangkan kau tertidur sambil tanganmu tak ingin kulepaskan. 

Aku tidak mencintaimu, katamu berulang kali. Aku tersenyum. Tak apa, pikirku. Selama kau ada di sini, kata-kata hanyalah hujan yang akan selalu reda. Tapi mencintai bayang-bayang ternyata menyakitkan. Aku menggenggam tanganmu, hatimu menggenggam rahasia-rahasia yang bukan aku. Tubuhku memeluk dirinya sendiri. 

Lalu kau pergi. Kuterka sebetulnya bukan cinta yang telah memudar, tapi memang pertunjukannya sudah selesai. Seperti kupon undian, cinta kita ada masa berlakunya. Mungkin sejak awal hanya aku yang tidak menyadarinya bahwa kupon itu hanya akan berlaku sampai hari ini. Kemudian aku kehilangan segalanya. Serupa mobil yang tiba-tiba mesinnya menolak untuk hidup. Dan kau melihatku dari tempat yang tak bisa kutuju. 

Cinta itu taik kucing, katamu. Bahkan ketulusan dariku hanya kau percaya sebagai omong kosong yang memuakkan. Lalu cinta menjadi teror berkepanjangan. Dan aku hanya bisa berdiri memandangi tembok dalam hatimu.

Beginilah akhirnya. Kau pergi dan aku mengutuki diorama di dalam kepala. 

Advertisements

One thought on “Cinta yang Begini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s