Rumah Loteng Kerinci

Berjalan-jalan di sebagian kecil Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci, perhatian saya tertuju pada rumah-rumah yang berjajar di pinggir jalan raya. Sebagian besar rumah yang terlihat di sana memiliki bentuk yang mirip, yakni dua lantai dengan atap masing-masing lantainya cukup rendah. 

Rumah penduduk di Kerinci.

Ada yang masih memakai kayu sebagai dinding rumah dan juga pagar bambu sederhana. Ada juga yang sudah lebih modern dengan memakai tembok permanen sepenuhnya dan pagar besi. Sekalipun memakai tembok, saya melihat rumah-rumah tersebut terlihat berbeda dari rumah loteng yang biasa dilihat di “kota”. Mungkin bentuknya yang hanya persegi.

Rumah penduduk di Kerinci yang sudah pakai tembok permanen.

Jujur saja, sebelumnya saya tidak tahu seperti apa rumah tradisional Kerinci. Tapi saya menduga, rumah-rumah yang saya lihat itu pasti bentuk perubahan dari rumah tradisional mereka. Ternyata benar. Penelusuran saya di mesin pencari memperlihatkan rumah-rumah panggung yang dahulu dipakai oleh Suku Kerinci.

Suku Kerinci adalah penduduk asli Alam Kerinci yang sejak 2011 secara administratif terbagi menjadi Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci. Belakangan sebuah penelitian dari Dr Bennet Bronson, peneliti Amerika Serikat yang telah melakukan penelitian bersama Tim Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Jakarta sejak 1973, menyatakan bahwa Suku Kerinci merupakan suku tertua di dunia.

“Suku Kerinci yang mendiami dataran tinggi Bukit Barisan di sekitar Gunung Kerinci lebih tua dari suku Inka, Indian di Amerika. Bahkan jauh lebih tua dari Proto-Melayu,” demikian hasil kesimpulan penelitian Bennet. (kerincikab.go.id.)

Berdasarkan yang saya baca dari berbagai sumber di internet, Suku Kerinci dahulu kala tinggal di rumah-rumah panggung yang disebut “umoh panja” atau “umoh larik” atau “umoh laheik”. Tidak ada aturan baku mengenai ukuran umoh panja. Tapi yang jelas rumah panggung tersebut umumnya memanjang karena di dalamnya terdapat beberapa deretan petak yang berfungsi sebagai rumah tinggal keluarga atau tumbi. Satu petak satu keluarga.

Mungkin rumah-rumah yang sekarang saya lihat pun masih diisi oleh beberapa keluarga karena rata-rata berukuran besar (memanjang). Tapi mungkin juga hanya diisi satu keluarga. Sayang saya tidak sempat menanyai orang lokal tentang hal tersebut.

Atap rumah tradisional Suku Kerinci memakai ijuk dan bangunan biasanya hanya disambung menggunakan ijuk juga. Seiring perkembangan zaman, sebagaimana hampir di seluruh wilayah Indonesia, atap rumah mulai berganti seng atau genteng. Rumah di Kerinci yang saya lihat pun kebanyakan menggunakan seng.

Bukan tanpa alasan mengapa masyarakat hampir di semua wilayah Indonesia zaman dahulu membangun rumah berbentuk panggung. Selain untuk mengindari ancaman binatang liar, kolong rumah biasanya difungsikan oleh masyarakat untuk gudang penyimpanan peralatan pertanian maupun ternak. Namun ada juga alasan filosofis dalam konsep rumah yang tidak menyentuh tanah. 

Masyarakat Sunda, misalnya, meyakini bahwa manusia tidak hidup di dunia atas (langit atau alam kahyangan) maupun dunia bawah. Maka manusia harus menjalani hidup di dunia pertengahan. Itulah mengapa rumah tidak menyentuh ke lantai yang mengibaratkan dunia bawah.

Rumah-rumah di Kerinci saat ini meskipun sebagian tetap mempertahankan konsep rumah loteng (lantai atas atau panggung), tetapi sudah tidak menggunakan fungsi kolong rumah seperti dahulu. Secara umum lantai satu juga difungsikan sebagai bagian dari rumah, ada juga yang memanfaatkannya untuk tempat usaha seperti warung dll.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s