Memaknai Kebahagiaan, Menumbuhkan Kesadaran

Ada satu kebiasaan yang dulu sering saya lakukan. Duduk di emperan Plaza Jembatan Merah. Iya, di emperan, karena memang duduk di lantai di luar plaza. Beberapa tahun lalu, saya suka duduk hingga berjam-jam di sana sambil menikmati es krim murah. Saya suka memerhatikan orang yang berlalu-lalang bahkan hingga malam menjelang plaza akan tutup. Tak jarang saya bisa bertemu atau menyapa kawan yang kebetulan lewat. Lokasinya yang cukup strategis karena dekat dengan perhentian angkot dan pusat kuliner malam, memang menjadikan PJM cukup ramai.

Aktivitas itu cukup jadi rutinitas di tahun tertentu. Sesekali saya ajak seorang kawan untuk menemani; kadang sambil bercerita, kadang juga hanya boleh duduk diam tanpa bicara. Saya juga sering menghabiskan waktu di sana jika sedang gundah atau ingin menikmati kesendirian. Hal sederhana itu cukup ampuh mengobati.

 
Dalam perjalanan pulang hari ini, saya melewati PJM dan baru menyadari sepertinya saya telah bertahun-tahun meninggalkan aktivitas itu. Mengapa dulu kegiatan itu sangat menyenangkan? Lalu saya berpikir, sepertinya semakin dewasa manusia, cara kita untuk berbahagia menjadi semakin tidak sederhana. Standard kebahagiaan dan kepuasan semakin rumit dari tahun ke tahun. Jika dulu ketika kanak-kanak kita berbahagia hanya dengan bermain hujan, sekarang kita bahkan seringkali tidak benar-benar merasai kehadiran hujan. Karena hujan bukan lagi salah satu variabel dalam indikator kebahagiaan kita.

Kesenangan Palsu yang Rumit

Ada banyak pandangan mengenai teori kebahagiaan, baik dari segi ilmu filsafat maupun keagamaan. Dalam bahasa Yunani, kebahagiaan adalah eudaimonia, yang terdiri dari dua suku kata “en” (“baik”, “bagus”) dan “daimon” (“roh, dewa, kekuatan batin”). Secara harafiah, eudaimonia berarti “memiliki roh penjaga yang baik”. Bagi bangsa Yunani, eudaimonia berarti kesempurnaan, yakni jika seseorang “mempunyai daimon (jiwa) yang baik”. Penggunaan kata ini menjadikan indikator yang digunakan lebih jelas: jiwa yang baik. Aristoteles menjelaskan bahwa eudaimonia berfokus pada makna hidup itu sendiri.

Berbeda dengan bahasa Yunani, kata kebahagiaan dalam bahasa Indonesia justru menjadi sangat abstrak dan terlalu luas untuk dimaknai. Pasalnya, indikator yang digunakan jadi bisa sangat beragam dan bertolak belakang satu sama lain. Seseorang bisa mencapai kebahagiaannya dengan pencapaian yang sifatnya materil (hedonisme) atau kebahagiaan justru baru tercipta dengan meninggalkan kesenangan-kesenangan materil karena meyakini bahwa kebahagiaan bersifat metafisik (asketisme).

Satu hal yang menjadi perhatian saya, menentukan kebahagiaan -yang memengaruhi cara kita mencapainya- itu ditentukan oleh kesadaran. Seberapa sadar kita bahwa cara yang kita tempuh adalah jalan menuju kebahagiaan dan apakah kebahagiaan yang kita tuju adalah kebahagiaan yang hakiki, bukan ilusi ataupun artifisial.

Masalahnya, untuk mencapai kebahagiaan artifisial pun seringkali kita menggunakan cara-cara dan pola pikir yang rumit. Jika saya beberapa tahun lalu bisa berbahagia hanya dengan makan es krim murah di emperan plaza, beberapa tahun terakhir saya cenderung mencapainya dengan tidak sesederhana itu. Saya merasa kesadaran saya untuk menilai kebahagiaan sudah bergeser pada kesenangan-kesenangan artifisial. Kesenangan (pleasure) ini yang dianggap Aristoteles menjadikan manusia sebagai budak keinginan-keinginannya.

Sudah benarkah cara kita mencapai kebahagiaan? Lebih jauh lagi, sudah benarkah kita menentukan kebahagiaan hidup? Apakah kita akan terjebak  pada jeratan pemuasan hasrat inderawi? Atau secara sadar hidup dalam rasionalitas hedonisme yang bertumpu pada pemuasan kebutuhan dan kesenangan melalui konsumsi?

Sepertinya kita perlu belajar menumbuhkan kesadaran untuk mencapai kebahagiaan melalui pemaknaan hidup, melalui tindakan-tindakan yang memiliki arti dan makna dengan disertai keutamaan: intelektual dan moral. Itulah eudaimonia. Kebahagiaan yang bisa datang dari hal-hal sederhana yang kita lakukan dengan penuh kesadaran. Kebahagiaan yang tidak akan pergi meskipun sumber kebahagiaan tidak lagi tersentuh oleh indera.

Seperti aku yang akan tetap bahagia meskipun kamu nggak ada. Ngok.

Advertisements

3 Comments

  1. Sering mendengar, “bahagia itu sederhana…” Boleh jd tiap2 org memaknai tolak ukur bahagia sprti itu, bahwa bahagia sebenarnya dkt dgn kesederhanaan tanpa buatan yg perlu effort supaya terlihat kesan bahagia, ITU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s