Museum, Superman, dan Heroisme Sejarah Nasional

Wah, sudah hampir setahun tidak menulis blog. Akibat terlalu sibuk malas. Hahaha. Mumpung hari ini adalah Hari Museum Internasional, saya jadi teringat cerita kunjungan ke museum dua tahun lalu yang belum sempat ditulis. Iya, dua tahun. Sungguh pemalas si Guli ini. :))

April 2018, ketika mendapat tugas ke Kota Padang, saya mencuri kesempatan untuk mengunjungi museum yang ada di sana. Sudah jadi kebiasaan saya untuk menyempatkan waktu datang ke museum setiap kali mengunjungi suatu kota. Jadi sangat disayangkan kalau sudah jauh ke Padang tapi tidak sempat ke museum.

Saya mengunjungi Museum Adityawarman yang letaknya tidak jauh dari lokasi kegiatan kami di pusat Kota Padang. Museum yang berdiri di atas lahan 2,6 hektar ini bangunannya saja sudah menjadi pameran tersendiri dengan atap gonjong (atap khas rumah gadang) dan motif ukiran khas Minangkabau. Salah satu bangunan museum di Indonesia yang megah. Terlebih lagi, penataan dan perawatan yang cukup baik sehingga museum cukup menyenangkan untuk dikunjungi.

Museum Adityawarman seperti museum kota pada umumnya, berisi berbagai macam peninggalan sejarah dan budaya daerah tersebut. Berbagai koleksi arkeologi, biologi, etnografi, sampai seni rupa tersaji di ruang-ruang berbeda yang sangat rapi. Museum ini sangat layak menjadi destinasi wisata unggulan Kota Padang. Mereka juga mengelola informasi mengenai museum melalui situs https://www.museumadityawarman.org/.

IMG_20180422_094419
Tampak depan Museum Adityawarman.

Ketika saya berkunjung ke Museum Adityawarman saat itu, kebetulan sedang ada pameran pers dalam rangka Hari Pers Nasional 2018.* Pameran berlangsung sejak 1 Desember 2017, hingga 1 Juni 2018. Beruntung sekali rasanya bisa melihat berbagai informasi mengenai sejarah pers Minangkabau. Ada 70 surat kabar, 13 benda dan peralatan penunjang kegiatan pers, serta piagam dan foto-foto tokoh pers Sumbar dan ketua PWI Sumbar dari masa ke masa yang ditampilkan dalam pameran tersebut.

IMG_20180422_103218
Harian Semangat, terbit tanggal 11 Oktober 1981.

Konon, sejarah pers Indonesia banyak dipelopori oleh tokoh asal Minangkabau. Generasi perintis pers Minang (1900-1930) seperti Abdul Rivai, Abdul Muis, Agus Salim, Landjumin Dt. Tumanggung, Mahyudin Dt. Sutan Maharaja, Rohana Kudus. Periode (1945-1965) tercatat beberapa tokoh pers Minang antara lain, Anas Makruf, Rusli Amran, Rosihan Anwar, Kasoema, Ani Idrus, H M Samawi, Gadis Rasid dan lainnya. Sastrawan Indonesia pun banyak berasal dari Sumatera Barat, seperti Marah Rusli, Motinggo Busye, Chairil Anwar, Taufiq Ismail, Afrizal Malna, dan masih banyak lagi.

Tapi ada yang disayangkan dari pameran HPN itu dalam kacamata saya. Di antara sekian banyak tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam pameran, muncullah seorang Clark Kent di sana. Iya, CLARK KENT SI SUPERMAN. Ini menghancurkan seluruh kehebatan penokohan pers Indonesia yang sedang coba dibangun dalam galeri tersebut. Tokoh berkacamata dalam DC Comics itu ditampilkan dalam dua tema. Pertama, tema ruang kerja dengan latar foto Clark Kent terpampang besar, kedua template ID Card pers dari Daily Planet, surat kabar tempatnya bekerja.

IMG_20180422_103041
Meja Kerja Clark Kent (???)

Saya berusaha memahami maksud dari pengelola untuk menghadirkan nuansa “kekinian” dengan menyediakan sudut berfoto (photo booth). Tapi mengapa harus Clark Kent? Lagi-lagi saya berusaha mengerti usaha pengelola untuk menarik minat masyarakat dengan menghadirkan tokoh superhero internasional, yang kebetulan sekali adalah dikisahkan sebagai seorang jurnalis.

TAPI DIA FIKTIF! Dan ini judulnya adalah Hari Pers Nasional. NASIONAL!

Menurut saya ini sebuah kegagalan memunculkan identitas Minangkabau sebagai pelopor sejarah pers nasional. Di antara sekian banyak tokoh berpengaruh, mengapa tidak memunculkan salah satunya untuk menguatkan kebanggaan pada sejarah nasional?

Bisa saja menampilkan Rohanna Kudus, sebagai jurnalis perempuan pertama dan perdiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia, sekaligus juga pejuang kaum perempuan pada masa itu dengan mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia. Ada juga tokoh perempuan lainnya dari sejarah pers Minangkabau sejak era pergerakan nasional, yakni Ani Idrus. Ani Idrus juga dikenal sebagai aktivis pendidikan yang juga berkiprah di ranah politik. Bersama suaminya, Mohamad Said, Ani Idrus mendirikan Harian Waspada tahun 1947. Atau bisa saja menampilkan Mochtar Lubis, tokoh pers yang turut mendirikan Kantor Berita ANTARA.

IMG_20180422_094907
Profil Rohanna Kudus dalam pameran Hari Pers Nasional.

Mengapa ingin tampak “kekinian” dengan penokohan seorang superhero fiktif? Bukankah sejatinya museum memang tempat kita untuk melihat masa lalu? Tempat kita menggali cerita-cerita yang tidak banyak diceritakan di ruang-ruang populer. Rekam jejak kekuatan budaya melalui catatan dan benda-benda. Justru PR besar kita adalah mengangkat kisah-kisah di dalam museum, menonjolkannya dalam budaya populer, sehingga sejarah bukan hanya sebagai benda mati. Bukan justru menenggelamkannya dalam kisah-kisah fantasi yang membuat kekuatan sejarah menjadi samar-samar.

Jika museum saja mengaburkan heroisme sejarah, lantas kita harus ke mana?

Cukup kenangan tentang mantan saja yang dilupakan, sejarah bangsa jangan!

Selamat Hari Museum Internasional!

*Mungkin pamerannya sekarang sudah tidak ada.

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s