Sementara Aku

Aku bertanya-tanya, seperti apa perempuan yang selalu kau rindukan? Bagaimana cara ia mencintaimu, hingga setelah ribuan malam pun ia tetap menjelma tiang-tiang lampu kota, mata pedagang asongan di stasiun, bahkan bayangan pohon oak di negeri seberang.

Aku bertanya-tanya, seperti apa perempuan yang kauperkenalkan pada sepotong senja, bagaimana sorot mata ia yang hari-hari berikutnya tak henti mengagumi senja dari sudut matamu. 

Aku bertanya-tanya, bagaimana perasaanmu mengingatnya setiap kali mata hendak terpejam. Bagaimana perasaanmu memeluk tubuhku sedangkan rindumu melarung menuju tepian hatinya. 

Aku bertanya-tanya, bagaimana perasaanmu terbangun dari mimpi tentangnya dan menemukan aku di sampingmu, menyimpan luka dalam getir senyum di wajahku. Bagaimana perasaanmu ketika melihat bingkisan-bingkisan sajak untuknya tersesat di rumahku-aku membukanya dengan haru, lalu kusadari itu bukan untukku.

Aku bertanya-tanya mengapa kau pergi jika lukamu begitu dalam sebab mencintainya.

Mungkin kau mengira aku tak pernah mengetahui pilu di dasar hatimu sebab cinta paling menyayat pernah meluluhlantakkan masa lalu. Padahal setiap luka paling rahasia yang membekas di dadamu, juga menggoreskan luka yang sama di dinding hatiku. 

Tapi aku tetap berada di sampingmu. Meski mungkin bagimu, aku adalah panas terik siang yang kau harap segera berlalu. Agar dirimu bisa kembali menjadi kunang-kunang yang mengunjungi makam-makam purba. Aku tetap menggenggam tanganmu meski tanganmu yang lain menuliskan namanya di langit-langit kamar kontrakan. 

Aku yang tetap merindukanmu meski setiap detikmu adalah penantian panjang menuju pengulangan-pengulangan cerita dan pelukannya. Aku tetap melihatmu meski tak ada aku dalam kisah-kisah yang kau tuliskan. 

Lukamu tak pernah kering semenjak ia memutuskan untuk pergi. Sementara aku, tetap setia memelukmu dalam diam.

Aku bertanya-tanya, pernahkah kau sedikit saja berpikir untuk mencintaiku?

***

Menuju pagi di Senggigi

Repertoar Gerimis

Takdir gerimis yang jatuh di kepalamu
Lesap menjadi aroma kampung halaman di rambutmu
Wajah-wajah asing hilir mudik
dibawa kereta menuju baris-baris puisi

Aku membayangkan kau menunggu di peron itu
Berkali-kali melirik jam stasiun yang berjalan mundur
Dan orang-orang yang menitipkan kecemasan pada matamu
Bahumu sendiri kepayahan memikul masa lalu
Sajak-sajak yang retak
Dan diorama usang di sudut-sudut kota

Saat menanti itu
Kau merapal mantra yang bukan namaku

***
Jakarta, 15 Juli 2017