Cinta yang Begini

Sesungguhnya aku telah kalah. Aku menjadi satu-satunya yang berada dalam arena ini, menciptakan pertarungan-pertarungan dengan udara kosong. Kau sudah lama pergi. Aku menciptakan bayang-bayangmu dalam kepalaku. Kubayangkan kau masih ada di sini, duduk di meja kerja sambil sesekali mengambil jus jambu dari lemari es. Kubayangkan kau tertidur sambil tanganmu tak ingin kulepaskan. 

Aku tidak mencintaimu, katamu berulang kali. Aku tersenyum. Tak apa, pikirku. Selama kau ada di sini, kata-kata hanyalah hujan yang akan selalu reda. Tapi mencintai bayang-bayang ternyata menyakitkan. Aku menggenggam tanganmu, hatimu menggenggam rahasia-rahasia yang bukan aku. Tubuhku memeluk dirinya sendiri. 

Lalu kau pergi. Kuterka sebetulnya bukan cinta yang telah memudar, tapi memang pertunjukannya sudah selesai. Seperti kupon undian, cinta kita ada masa berlakunya. Mungkin sejak awal hanya aku yang tidak menyadarinya bahwa kupon itu hanya akan berlaku sampai hari ini. Kemudian aku kehilangan segalanya. Serupa mobil yang tiba-tiba mesinnya menolak untuk hidup. Dan kau melihatku dari tempat yang tak bisa kutuju. 

Cinta itu taik kucing, katamu. Bahkan ketulusan dariku hanya kau percaya sebagai omong kosong yang memuakkan. Lalu cinta menjadi teror berkepanjangan. Dan aku hanya bisa berdiri memandangi tembok dalam hatimu.

Beginilah akhirnya. Kau pergi dan aku mengutuki diorama di dalam kepala. 

Hujan Terakhir

Kita adalah kemarin
Menempel pada tembok usang
Lampu-lampu jalan, rel kereta
Dan apapun yang bukan ingatan

Tak ada kunang-kunang
Malam senyap tumbuh di atas meja
Di dalam lemari, di gerbong kereta
Di ruas-ruas jalan yang kita tinggalkan

Kemarau tinggal di mataku
Hujan terakhir tanggal dari rambutmu
Pertemuan-pelukan lesap oleh waktu

Kita adalah abu
Bara api menyala dalam dadaku